Suatu Waktu ke Pelabuhan Ratu

Kalimalang, 4,30 pagi. Saat kebanyakan orang masih terlelap dari tidur, saya justru sudah mulai mengendarai redbastard di jalan raya yang menjadi urat nadi sehari-hari para commuter tersebut. Keberadaan motor, apalagi mobil, masih bisa dihitung dengan jari. Apalagi jika mengingat ini adalah H+2, atau dua hari setelah lebaran. Kondisi jalan masih lengang. Tujuan perjalanan kali ini adalah Pelabuhan Ratu. Sebuah wisata pantai di bagian selatan pulau Jawa. Tepatnya di sekitar wilayah Sukabumi, Jawa Barat. Mengapa menuju ke wilayah “kekuasaan” Nyai Roro Kidul tersebut? Ah tidak ada alasan tertentu. Hanya ingin melepaskan penat dan memuaskan libido berkendara ke luar kota yang “terjebak” di asa. Toh jika memilih kawasan Puncak Pass, Ciater, Bandung dan sekitarnya pasti akan terkena macet total akibat padatnya arus mudik.

Tidak ada rencana pasti, rute mana yang akan ditempuh. Awalnya, ingin menempuh rute via Transyogi Cibubur – Cisalak – Jl. Raya Bogor – Ciawi – Cibadak. Tetapi entah kenapa, mood tiba-tiba saja berubah. Alhasil saya mengambil rute via Pasar Minggu, dari situ saja, lengangnya kota Jakarta yang ditinggal jutaan pemudik makin terasa. Hanya ada beberapa motor atau mobil. Cahaya jalan minim, sementara beberapa warung rokok pinggir jalan masih membuka diri, seakan mengajak sesaat untuk mampir.

Angin segar pagi hari terus menerpa saat memasuki kawasan Margonda. Jalan raya yang biasanya padat dari pagi hingga malam hari ini, justru terlihat sedang “beristirahat”. Lalu lintas, seperti yang saya temui selama perjalanan pagi ini, sungguh lengang. Kontras dengan pemandangan sehari-hari. Redbastard saya pacu hanya sekitar 50-60 km/jam saja, sambil berusaha menikmati sepinya jalan.

Lagi. Rute perjalanan berubah. Awalnya ingin melalui KSU, tapi justru saat tiba di persimpangan yang sering menjadi rute tetap para penikmat turing tersebut, malah bablas alias lurus ke arah Citayeum. Awalnya cukup menikmati melalui jalur ini, apalagi jalan yang saya lalui berdampingan dengan jalur kereta api. Tapi kondisi jalan yang banyak berlubang, sedikit mengurangi kenikmatan pagi ini. Apa boleh buat, disebuah persimpangan, kembali rute beralih ke arah Pemda kabupaten Bogor. Dari sini, ketemu lagi dengan persimpangan, saya mengambil ke kanan, ke arah Bogor Kota. Dan kenikmatan berkendara pun mulai saya temui kembali. Jalan meliak-liuk, suasana pagi nan sejuk plus sepinya arus lalu lintas serasa menyatu menjadi sarapan pagi saya hari ini.

Memasuki kota Bogor, saya hanya sejenak saja mencicipi kesejukan jalan Pajajaran yang terkenal dengan pohon-pohon beringin yang rimbun. Pasalnya, rute yang saya ambil adalah via Batutulis – Caringin, untuk menghindari kemacetan di simpang Ciawi. Akhir pekan, libur panjang & Ciawi = rumus kemacetan tepat guna. :D

Setelah melewati Batu Tulis dan tiba di daerah Caringin, lalu lanjut melalui jalan raya Sukabumi, 1 jam sejak tiba di Bogor, saya sudah tiba di pom bensin Cibadak. Percaya atau tidak, di sana sudah ramai dengan rombongan bermotor dan juga mobil pribadi. Tak ketinggalan, mobil dengan bak terbuka yang dipenuhi dengan penumpang. Padahal, waktu baru menunjukkan pukul tujuh pagi.

“Kita mau ke Pelabuhan Ratu bang. Sama teman-teman, menikmati liburan.” Ujar Doni seorang anggota rombongan bermotor. Ketika ditanya mengapa memilih Pelabuhan Ratu ia menjawab, “Murah bang. Cuma bayar uang masuk sama parkir, kita bisa main di pantai deh. Kan asyik, sama teman-teman juga.” Ujar pemuda karyawan pabrik di bilangan Cibinong itu mewakili sekitar 20 pemotor yang ikut dengannya.

Tak lama setelah itu, perjalanan saya lanjutkan. Jujur, dari Cikidang – Pelabuhan Ratu, saya harus bersabar menghadapi tingkah laku para pengendara yang cenderung begajulan. Melibas tikungan dengan tehnik ala motogp (salah tempat euyy) dan menyalib kendaraan yang sedang menanjak seenaknya. Dasar gemblung! Pikir saya. Nah, yang paling menantang adalah ketika membuntuti mobil bak terbuka dengan penumpang para pemuda-pemudi. Sontak saja penunggang redbastard jadi pusat perhatian. Sempet ge er juga sih, tapi yah kalo gak dimanage, bisa jadi ajang pamer. Ya sudah, so cool saja, jaga jarak aman. Kalau udah aman, baru overtake. Tentunya sesekali membalas lambaian para pemudinya, bukan pemuda. :D

Adrenalin mulai meningkat sesaat memasuki kawasan perkebunan Kelapa Sawit yang kemudian disambung dengan perkebunan karet. Aspal yang lumayan mulus, ditambah dengan pemandangan indah di kiri dan kanan jalan, tak pelak membuat semngat berkendara makin tinggi. Tikungan demi tikungan saya libas dengan kehati-hatian sangat tinggi. Kenapa? Karena bahaya selalu menerjang di kala kita lengah. Saya juta tidak mau terlalu larut saat menikmati tikungan. Ini bukan sirkuit, dimana kita mau melebar sejauh apapun di tikungan, tidak akan ada motor, angkot atau orang yang menyeberang selepas tikungan. Inilah perbedaan antara jalan raya dan sirkuit. Jujur, beberapa kali tergoda melakukan aksi menikung dengan sedikit rebah. Tetapi itupun jika posisi tikungan terlihat jelas tanpa adanya halangan pandangan. Lebih dari itu, pola pikir logis menjadi “rem” utama nafsu berkendara.

Ada satu kejadian dimana saya mensyukuri telah bersedia belajar dan mencari tahu tehnik berkendara sebelum menggunakan motor sport full fairing. Saat sedang dalam kecepatan 70 km/jam (kebetulan menemukan trek lurus mulus setelah tikungan), dari jauh saya lihat ada angkot yang menurunkan penumpang tanpa menepi. Saya sudah antisipasi, dan terpaksa menurunkan kecepatan yang saat itu sedang berada di kisaran 70 km/jam. Dan sekonyong-konyong dari sebelah kanan angkot/seberang jalan, seorang pengendara motor bebek, tiba-tiba saja masuk ke badan jalan dan berhenti menoleh ke arah saya. Damn! Padahal momentum motor masih dalam kecepatan tinggi. Memori otak saya langsung bekerja. Tangan melepas gas, menekan rem depan secara perlahan dan melakukan down shifting secara cepat. Dan engine brake pun bekerja menurunkan laju kendaraan. Semakin dekat jarak saya ke motor tersebut, saya semakin kuat mengerem dengan rem depan. Dan perlahan-lahan mulai menekan rem belakang. Dan ketika saya kira si pengemudi itu akan diam di tempat, dia justru mulai melaju ke tengah jalan. Padahal waktu itu, jarak saya dan dia hanya terpaut sekitar 10 meter! Akhirnya, downshifting lagi, rem depan dan belakang dikombinasikan. Saya rasakan ban belakang berhenti, tapi motor masih berjalan. Rem depan saya lepas sejenak, lalu saya rem lagi. Dan akhirnya berhasil menjaga jarak dengan si motor tersebut yang dengan santainya berkendara di tengah jalan. Sementara saya, yang masih tegang, akhirnya memutuskan untuk berkendara santai sejenak. Dan demi topan serta badai, si pengendara motor itu, tiba-tiba saja belok kanan hanya bermodalkan lambaian tangan dan celingak-celinguk ala maling jemuran. :D

Nyaris! Itu yang ada di dalam benak saya. Akhirnya saya putuskan untuk berhenti sejenak, dan mengecek kondisi ban. Semuanya ok. Tidak ada yang “cedera”. Dan pikiran pun sesaat menerawang kejadian beberapa detik lalu. Sungguh mantap keseimbangan Ninja250 ini. Saat mengerem, dan dalam posisi sliding, bagian belakang motor tidak liar. Malah sangat bisa diandalkan. Again, my choice was right. I bought the right motorcycle. :D

Sisa perjalanan dilanjutkan dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Selain tanjakan curam, turunan terjal hingga jurang menganga di sebelah kanan dan kiri, sempitnya jalur juga menjadi pertimbangan. Jalur ini identik dengan liukan “ci look ba!” alias penuh kejutan. Jalur yang berawal landai, bisa saja menukik tajam dibarengi dengan tanjakan curam, lalu diakhiri dengan turunan terjal plus tikungan “patah” yang tidak menyisakan pandangan luas. Jujur, saya rasa, pembalap motogp pun akan berpikir dua kali saat berkendara di daerah ini. :D

Jelang Pelabuhan Ratu, saya mengambil jalur yang salah. Ketika tiba di sebuah persimpangan, seharusnya saya menempuh jalur lurus, tetapi malah belok ke kanan. Tapi bukan tanpa alasan. Sebabnya, ada papan penunjuk yang menyatakan ke Pelabuhan Ratu belok kanan (Belakangan saya ketahui, bahwa lurus pun akan tiba di pantai selatan tersebut, dengan kondisi jalanan yang mulus pula). Jalur ini sedang direkonstruksi. Kerikil dimana-mana, permukaan aspal yang berantakan, penuh lubang besar. Saya berhati-hati sekali, agar fairing dan bagian bawah motor tidak tergores. Namun semakin dilewati, kok jalurnya semakin parah? Sempat ragu juga, apakah ini jalur yang benar. Lalu saya sempatkan bertanya kepada seorang bapak yang tengah berjalan. Dia menjawab, “Sama saja mas. Mau lewat yang lurus juga ke Pelabuhan Ratu. Tetapi lewat sini lebih dekat. Memang jalannya lagi perbaikan.” Jawaban tersebut membuat saya lega. Walaupun sedikit menyesal juga, mengapa mengambil jalur idaman para motorcrosser ini? Apa boleh buat, sikat bleh! Ujar saya dalam hati. Apalagi saat melihat banyaknya pengendara yang melalui jalur tersebut, saya makin mantap. Dan jerih payah melewati jalur ini terbayar ketika seusai menanjak, mata saya diberikan kejutan. Tiba-tiba saja, hamparan laut selatan terpampang luas di depan. Akhirnya, sebuah reward yang tak terduga. Pemandangan itu, seakan meluluhlantahkan rasa lelah berkendara selama 4 jam terakhir.

Saat beristirahat di pinggir pantai, sembari menikmati kelapa hijau dengan es, saya merefleksikan perjalanan hari ini. Mulai dari bangun pagi, memanaskan mesin, mengubah rute perjalanan seenaknya hingga berputar-putar tak karuan di sepanjang pantai Pelabuhan Ratu. Saat tenggorokan ini merasakan kesejukan air kelapa muda yang dingin, disertai senyuman wanita penjaga warung, terasa lengkap sudah perjalanan ini. Akhirnya, Pelabuhan Ratu tlah ku cumbu. :D (hnr)

26 responses to “Suatu Waktu ke Pelabuhan Ratu

    • @pandu, siapkan juga motornya bro. Plus mental solo riding. God Speed…
      @arantan, tks brada…
      @aziz, jiah bukannya situ masih mudik bro? Lain kali gue ajak dah :D

  1. Jalur Cikidang memang mengundang bikers melakukan aksi menikung layaknya di sirkuit.
    2 Sept 2011 hampir saja minibus yg saya tumpangi disenggol Pulsar yg menikung melebar.

  2. coba agan-agan kalau ada waktu mampir ke pantai cianjur selatan jalannya meliuk-liuk lebih menantang drpd kepelabuhanratu namanya pantai jayanti dari jakarta kurang lebih 200 km di suguhi dengan pemandangan yang sangat sejuk,mulai kebun teh,pepohonan dan lain sepanjang kurang lebih perjalana 40 km di suguhi pemandangan pantai rutenya dari jakarta ngmbil via puncak cipanas cianjur.

  3. jalurselatan….. memang the best..euy…pemandangan yg exotis…
    ane dah jelajah rute tsb…. pangandaran…cipatujah..pameungpeuk santolo…rancabuaya…cidaun..sindangbarang..ujunggenteng..plbhn ratu..bayah..carita..sampai merak….wuiiih pantai semua..
    kesemuanya..tentu dgn rute yg bertahaptahap..alias berkalikali..star dr bdg.
    trus sebenarnya sampai jg ke jogja..jalur sisi selatan tsb… ane pernah coba jogja cilacap pk jalanan yg baru..lempeeeng sepi…sprt tol.

  4. Tulisannya sungguh menginspirasi bro..sangat menarik dan membuat seketika membayangkan..menggugah semangat untuk touring bangkit kembali..
    salam bikerz bro..!!

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s