Touring Ciater – Tangkuban Perahu, Merangkai Kebersamaan Dalam Susah dan Senang (bag 1)

Siapa yang tidak mengenal obyek Wisata Air Panas Alami Ciater yang terletak di Subang, atau Gunung Tangkuban Parahu di Subang, Jawa Barat? Sebagian besar dari generasi yang lahir akhir 70an atau awal 80an, pastinya sudah pernah ke sana. Saya sendiri pernah berkunjung ke daerah itu ketika masih SD. Bahkan beberapa tahun lalu, pernah juga mengunjunginya bersama rekan-rekan kerja. Lalu untuk apa mengunjungi kembali?

Pertanyaan itu menggantung di benak saya, ketika teman-teman KHCC (Karisma Honda Cyber Community), komunitas motor Honda Karisma, dimana saya bergabung, mengadakan kegiatan perjalanan ke luar kota, atau kerap disebut touring ke daerah tersebut. Sempat ragu juga untuk mengikuti kegiatan ini. Tapi saya berpikir, mungkin rasanya akan sedikit berbeda. Sebab, kali ini saya akan mengendarai sepeda motor. Artinya harus ada effort, berbeda dengan menjadi penumpang yang tinggal duduk diam. Setelah memertimbangkan beberapa hal, maka atas dasar menambah pengalaman, saya memutuskan untuk turut serta.

Sebelum Memulai Perjalanan…
15 KHCCers (sebutan bagi anggota KHCC) merapat di titik keberangkatan, di Kalimalang. Tepatnya di seberang pusat perbelanjaan Metropolitan Mall, Bekasi. Lalu, sesuai dengan prosedur Group Riding, mulailah proses Scruut atau pemeriksaan kendaraan. Proses ini dilakukan guna memeriksa kesiapan kendaraan. Saat diperiksa, justru yang terkena peringatan pertama adalah Rori, sang ketua KHCC. Pria yang baru saja melepas masa lajangnya, mengalami kekurangan angin di ban depan. Alhasil, Hendrawan “One” selaku RC (road captain) memintanya untuk mengisi angin di bengkel terdekat. Sisa rombongan lulus proses pemeriksaan ini.

Briefing Sebelum Memulai Perjalanan.

Setelah itu, pembagian tugas para petugas touring pun dilakukan. Oh ya, dalam konsep group riding KHCC, para petugas rombongan ini tidak bertindak sebagai polisi/jagoan. Mereka hanya bersifat koordinatif-internal, artinya “wewenang” mereka hanya menjaga keutuhan rombongan selama perjalanan. Tapi tidak dengan “menyingkirkan” pengendara lain di jalan, atau berlaku arogan. Dengan mengandalkan radio komunikasi via HT, para petugas berkoordinasi demi perjalanan yang simpatik. Dan tentunya tidak diperbolehkan melakukan blocking, ataupun melanggar rambu lalu lintas. Tipikal KHCC.

Saat briefing keberangkatan, Rori bergabung dengan senyum sumringahnya. Tak pelak, sang ketum pun menjadi bahan canda para anggota. Setelah itu, rombongan siap memulai perjalanan.

Saat mengambil foto rombongan yang siap berjalan, senyum dan rasa bangga tidak bisa saya sembunyikan. Betapa tidak, hampir semua anggota rombongan menggunakan perlengkapan berkendara standar. Sepatu riding, celana jeans/touring, jaket tebal, sarung tangan berkendara hingga helm full/open face. Bahkan lebih dari setengah peserta rombongan sudah menggunakan protektor lutut dan siku! Suatu hal yang susah ditemui dua tahun silam saat touring ke Ujung Genteng. Mantab!

Tantangan justru dimulai ketika perjalanan baru dimulai. Beberapa kali terpaksa berhenti. Selain menunggu KHCCers yang mengisi bensin, lagi-lagi Rori yang jadi “pusat perhatian”. Kelistrikan motornya bermasalah. Tapi setelah mampir ke bengkel terdekat, masalah terselesaikan dengan penggantian sekring. Perjalanan pun dilanjutkan.

Setelah melewati Bekasi Timur dan meninggalkan wilayah Kalimalang, rombongan memasuki daerah Karawang. Dari sini, keutuhan rombongan mulai sulit terjaga. Hal ini diakibatkan simpul-simpul kemacetan di beberapa tempat. Saya sendiri, karena mengambil gambar dengan handycam dan minicam, sering tertinggal rombongan. Untungnya, alat komunikasi HT menjadi andalan untuk mengecek keberadaan rombongan di depan. Tak jauh dari saya, ada sang sweeper (petugas paling akhir) Iwan “Bewok”, dengan HT dan antenanya yang mampu menjangkau hingga 1,5 km. Dengan di saya melakukan kontak. Bewok sempat berkali-kali mengecek keberadaan saya, dan dia pula yang memandu saya di beberapa persimpangan. Tak terhitung berapa kali saya memacu motor Karisma 2003 saya untuk mengejar ketertinggalan. Tak disangka, seru juga jadi kameraman touring. Kadang berada jauh di depan, kadang berjalan sendirian di belakang.

Dalam Perjalanan, Formasi Apik nan Simpatik Terus Dijaga.

Memasuki wilayah Klari, rombongan kembali berkonsolidasi. Walaupun arus lalu lintas terhitung lancar, lebar jalan yang hanya pas untuk dua mobil, memaksa kami untuk berhati-hati menjaga jarak. Suara rakom bersahut-sahutan untuk saling mengkonfirmasi keberadaan rombongan. Beberapa kali, rombongan “tercerai berai” dengan jarak antara KHCCers yang cukup jauh. Tapi itu merupakan konsekuensi karena sempitnya dan berlikunya jalan di daerah tersebut. Semangat berbagi di jalan, kami jalankan dengan kesadaran penuh.

30 menit memasuki wilayah Klari, terjadi lagi masalah. Kali ini Andika, sekretaris KHCC, yang jadi “tersangka”. Ban motornya kempes. Rombongan berhenti lagi. Ketika saya hampiri, ia memerhatikan bannya. “Kok bisa ya? Padahal ini ban tubeless,” ujar pemuda lajang yang menggunakan Supra X125 PGM-FI ini. Tak lama setelah itu, ditemukan bengkel tambal ban. Sang mekanik memeriksanya, dan menemukan lubang yang cukup dalam. Akhirnya ban tersebut harus ditambal. Selama proses penambalan, sebagian menemani Andika. Sisanya beristirahat di warung, dan ada yang mulai bernarsis ria. Setelah selesai menambal, perjalanan menuju Ciater pun dilanjutkan. Cuaca mulai memanas.

Memasuki kota Purwakarta, menjelang siang, rombongan disambut lalu lintas keramaian kota kecil tersebut. Melewati alun-alun kota, klakson bersahut-sahutan dari anggota rombongan. Awalnya saya pikir ini karena tingkah laku angkot yang ngetem sembarangan atau hal lainnya. Belakangan diketahui, tingkah polah itu untuk menarik perhatian para siswi SMA dan beberapa dara cantik yang dilewati oleh rombongan.😀

Tetap Mematuhi Aturan Lantas.

Mumpung Menunggu Lampu Lantas, Pose dong!

Lepas dari Purwakarta, rombongan memasuki daerah Wanayasa. Kali ini, selain jalan raya yang sempit dan berliku, padatnya arus kendaraan juga menjadi perhatian. Konsentrasi kembali harus ditingkatkan. Beberapa kali dalam pengamatan saya, rombongan harus bersabar melewati angkutan umum yang berjalan pelan, atau truk/minibus yang lamban melewati tanjakan. Belum lagi attitude pengendara lokal yang seringkali membuat kami menghela napas. Saya sendiri mengalami hal tersebut.

Ketika sedang mengejar ketertinggalan dengan rombongan, saya berkendara dengan kecepatan 60-70 km/jam. Lalu lintas yang agak sepi di sebuah daerah pemukiman, sempat menggoda untuk memacu kendaraan lebih cepat, tapi saya urungkan niat itu. Kemudian dari jauh, saya melihat seorang pemuda di pinggir kanan jalan. Mendadak sistem SEE (See Evaluate Execution) dalam diri saya terbangun. Saya amati, tidak ada lampu sein yang dinyalakannya, ataupun membelokkan stang kemudi ke arah jalan. Tapi semakin dekat, saya menjadi curiga sebab dia melihat ke arah toko di depannya. Dan tiba-tiba saja, seorang wanita keluar dari toko tersebut, dan membonceng si pemuda tersebut. Lalu, tanpa peringatan apapun, pemuda tersebut memutar motornya, memasuki jalan raya, tepat beberapa puluh meter sebelum saya tiba. Dalam hitungan detik, sistem saraf saya bekerja bagaikan komputer. Saya cek spion kanan dan kiri, sempat headcheck, lalu dalam waktu yang bersamaan melakukan soft breaking di bagian depan, lalu belakang dan membunyikan klakson panjang tanda kehadiran saya. Tapi sang pemuda tidak perduli, ia tetap memutar, berjalan lurus sedikit dan lagi-lagi tanpa lampu sein, langsung belok ke kiri. Saat itu, jaraknya hanya terpaut sekitar 10 meter di depan. Kejadian itu berlangsung dalam hitungan detik. Jika saja saya tidak antisipasi, mungkin kejadiannya akan berbeda. Jakarta banget!, pikir saya. Sekali lagi, tehnik riding yang benar mampu menyelamatkan saya dan (sayangnya) pemuda tersebut dari insiden jalan raya.

Menjelang pukul 12.00, rombongan memutuskan untuk mengisi bensin di SPBU (yang tadinya kami kira) terakhir sebelum Ciater. Letaknya di daerah Wanayasa, sebelum Situ Wanayasa. Ketersediaan bahan bakar sangat penting karena di area sekitar Ciater, tidak tersedia SPBU. Walaupun demikian, tersedia penjual bensin eceran sepanjang jalanan. Namun demikian, sebagian besar anggota rombongan enggan mengambil resiko. Apalagi mengingat tidak ada jaminan kemurnian bensin eceran tersebut. Hendrawan “One” pun menganjurkan agar semua mengisi ulang bahan bakar mereka. Andika, satu-satunya pengguna motor berinjeksi, merasa yakin bahan bakarnya cukup selama perjalanan menuju dan dari Ciater. Ia memutuskan untuk tidak mengisi ulang. “Masih empat bar, masih cukup kok,” ujarnya percaya diri.

Menyantap makan siang.

Tak hanya bensin yang diisi ulang. Demikian juga dengan “bahan bakar” tubuh kami. Dengan modal 20 nasi bungkus, kami memutuskan untuk makan siang di SPBU tersebut. Joko “Gipih” selaku satu-satunya pengendara yang menggunakan box samping berlaga bak tukang bubur ayam, atau penjaja nasi bungkus sungguhan. Pasalnya, di kedua box itulah stok makanan dan kerupuk dimuat. Tak butuh waktu lama bagi kami untuk “senyap” sejenak melahap makan siang dengan menu ayam goreng, sayur kacang, bakwan goreng dan dan tak lupa sambalnya. Suara lirih kerupuk yang dikunyah, dan air minum ditenggak menjadi semacam penanda laparnya kami, dan nikmatnya perjalanan ini.

Usai makan siang, ada kekhawatiran adanya hujan yang menanti di sekitaran Wanayasa. Hal ini diungkapkan One, sambil melirik jamnya yang mempunyai fungsi barometer (pengukur tekanan udara). “Tekanannya turun nih, kayaknya bakal hujan nanti di sekitaran Situ Wanayasa,” tegas pria berkacamata ini.

Analisa One terbukti akurat. Ketika rombongan melanjutkan perjalanan, 10 menit kemudian saat tiba di Situ/Danau Wanayasa, kami disambut gerimis ringan. Tak pelak, sesuai kesepakatan, KHCCers berhenti. Lalu tanpa diperintah, masing-masing mulai membuka boks masing-masing. Lalu mengeluarkan jas hujan dan berusaha mengenakannya di bawah siraman hujan. “Aksi” ini menjadi tontonan beberapa rombongan biker dan wisatawan lokal yang memilih meneduh di warung-warung dekat Situ. Dalam hitungan detik, hujan semakin deras. Untungnya, rombongan kami sudah siap dengan jas hujan masing-masing. Setelah mengatur formasi, dibawah guyuran hujan yang deras, rombongan kami melanjutkan perjalanan.

Sesaat setelah meninggalkan Situ Wanayasa, saya melihat jauh ke depan. Awan gelap pekat tampak menggantung ke arah perjalanan kami. Saya menduga, sepertinya hujan akan terus berlangsung selama perjalanan. Dugaan saya bahwa perjalanan ini akan normal gugur dengan sendirinya.  Pengalaman membuktikan, hujan saat touring, selalu mengandung cerita.

Tetapi, 10 menit kemudian, saat kami sudah berkendara meninggalkan Situ Wanayasa, hujan reda dengan sendirinya. Lalu lintas rakom pun ramai. Intinya, para petugas menanyakan, apakah sebaiknya berhenti untuk melepas jas hujan, atau tetap melanjutkan perjalanan. Rombongan sempat berhenti sejenak untuk berkonsolidasi. Akhirnya diputuskan untuk tetap menggunakan jas hujan, mengantisipasi cuaca mendung yang cenderung konsisten di depan kami.

Selama sisa perjalanan, saya hanya bisa menahan diri untuk melepas jas hujan. Mini camera, yang saya lekatkan di bagian jaket, tidak bisa dioperasikan untuk merekam perjalanan. Padahal dalam pengamatan saya, formasi group riding kami sungguh rapih dan menarik untuk didokumentasikan. Tapi sayang, karena jas hujan, dan handycam sudah saya masukkan ke boks, terpaksa niat untuk mengambil gambar saya urungkan.

Sesaat sebelum tiba di Ciater, kami melewati jalur yang melintas perkebunan teh. Melewati jalur ini mengingatkan saya pada jalur Gunung Mas – Puncak Pass, Cianjur Jawa Barat. Hamparan kebun teh, di samping kanan dan kiri jalan, sepanjang mata memandang. Udara segar, dan semilir angin sejuk penggunungan menerpa saat saya membuka visor helm. Sungguh menyegarkan. Saat tengah menikmati jalur tersebut, One, melalui rakom memberi isyarat kepada saya untuk belok ke kiri, ke arah Ciater. Tak lama kemudian, kami tiba di penginapan Pondok Sonia.

Pondok Sonia…
Letaknya persis di samping pemandian air panas Ciater. Tetapi untuk menuju penginapan tersebut, persis sebelum pintu masuk Ciater, ada jalan ke kanan, masuklah ke jalan tersebut. Ikuti terus, sampai melewati parkir bus dan pusat oleh-oleh. Letaknya setelah turunan, sebelah kanan.

Pondok Sonia, tempat kami menginap.

Pondokan ini mempunyai beberapa tipe penginapan. Setiap tipe mempunyai perbedaan kapasitas dan fasilitas. Awalnya kami berniat menyewa tipe B dengan fasilitas Bath tub, tetapi menurut Disa “Pasikom” salah satu panitia, tipe tersebut sudah terlebih dahulu disewa oleh orang lain satu hari setelah dilakukan survey. Akhirnya kami menggunakan tipe G.

Tipe ini mempunyai tiga kamar tidur, dan dua kamar mandi. Untuk rombongan yang berjumlah 15 orang, ini lebih dari cukup. Ruang tamu yang luas, disertai water dispenser dan kompor gas yang siap pakai, menjadikan penginapan ini sesuai dengan kebutuhan kami. Anggota rombongan pun sibuk membawa masuk perlengkapan berkendara dan juga bekal serta logistik lainnya.

Bongkar muatan sebelum memasuki penginapan.

Sesaat setelah proses beres-beres selesai, hampir semua KHCCers berganti “kostum”. Kebanyakan mengganti celana panjang dengan celana pendek. Beberapa diantaranya langsung mengeluarkan sandal jepit yang dibawa dari rumah. Tak lupa, para penikmat kopi dan teh langsung ribut untuk menghidangkan minuman kesukaannya. Antrian gelas untuk menyeduh minuman hangat pun tak terhindarkan.

Satu jam setelah tiba, suasana di penginapan menjadi lebih senyap. Pasalnya, hujan langsung turun, walaupun ringan. Hawa menjadi kian sejuk. Akhirnya rencana untuk ke Tangkuban Parahu dan mencoba area ATV (All Terrain Vehicle) menjadi gagal dengan sendirinya. Penganan atau cemilan pun mulai ditebar di meja. KHCCers ada yang ngobrol di ruang tamu. Topiknya beragam. Mulai dari group riding selama perjalanan, para wanita cantik yang dilihat sepanjang jalan hingga mengagumi artis sinetron penjual jamu yang mereka tengah tonton di televisi. Sementara, beberapa orang lainnya, hanyut dalam buaian mimpi di kamar tidur. Perjalanan yang tergolong ringan tersebut, ternyata tetap menyedot tenaga yang membuat mereka lelah. Saya pun tertidur lelap setelah mengobrol panjang dengan Eko dan One.

Mengobrol, Berbenah barang yang basah untuk mengisi waktu luang.

Lepaskan penat sejenak.

Menjelang senja, KHCCers yang tertidur lelap sudah bangun, dan para pria perumpi makin asyik dengan obrolannya, kami dikejutkan dengan kedatangan Arief. KHCCers bernomor 164 ini, berhasil mencapai Ciater seorang diri. Tak sedikit KHCCers yang takjub melihat Arief yang menyusul sendirian. Wajar, jarak Bantar Gebang – Ciater, tentunya tidak pendek. Apalagi mengingat Arief yang belum pernah ke Ciater dengan sepeda motor. Lagi, cerita Arief menjadi selingan nikmat sore ini. tak lupa teh tubruk dan kopi hangat menjadi teman berdiskusi. Asap panas yang berasal dari pemandian di seberang kami, seakan menjadi pelengkap suasana hangat senja itu. Ruang tamu penginapan menjadi ajang diskusi ringan kami.

Memasuki Malam
Setelah mengundi doorprize dan makan malam, kami memutuskan untuk menuju kolam air panas dengan asumsi, semakin malam, semakin sepi pengunjung yang datang. Namun, saat memasuki area Ciater, saya merasa asumsi itu salah besar. Pasalnya, justru kondisi di parkiran ramai dengan pengunjung yang baru saja tiba dan memasuki area kolam.

Menikmati Makan Malam, sebelum berendam di kolam.

Pengundian Door Prize

KHCCers tampaknya tidak sabar menikmati air panas. Asap dari uap air panas tersebut, yang mengumpul di permukaan air, seakan memanggil kami untuk segera masuk. Alhasil, kami semua langsung berganti pakaian dan bersiap berendam dan merasakan sensasi air panas alami Ciater.

Saya pribadi, menjadi yang paling terakhir memasuki kolam, setelah sebelumnya merekam dan memotret tingkah polah KHCCers di kolam. Berbeda dengan lainnya, yang langsung masuk ke kolam, saya berusaha menikmati saat-saat tersebut. Yang pertamakali saya rendam adalah kaki. Pelan namun pasti, saya menenggelamkan diri. Ada rasa seperti ditusuk-tusuk di seputaran pori-pori. Lalu saya lanjutkan menenggelamkan diri hingga bagian pinggang. Disinilah sensasinya dimulai. Air panas belerang tersebut, bagaikan alat pijit otomatis paling canggih. Bagaimana tidak, tubuh saya terasa dipijit bagian depan, belakang, hingga syaraf terdalam. Tulang belulang rasanya luluh. Apalagi setelah permukaan air sampai di bagian dada, saya tidak bisa menahan untuk menutup mata dan menengadah ke atas. Serasa mendapat pijatan kelas dunia. Dalam sekian detik, kelelahan selama perjalanan dari Jakarta, hilang dengan sendirinya. Kesumpekan selama bekerja, bayangan lalu lintas Jakarta, lenyap sudah. Kini saatnya menikmati pijatan alami air panas Ciater. Speachless.

Disa "Pasikom"

Kenikmatan ini tidak hanya saya rasakan. KHCCers yang lainnya juga demikian. One dan Eko “nasduk”, malah adu berenang cepat. Disa, yang ngebet touring, berendam tanpa suara, sambil menikmati suasana kolam yang ramai namun nyaman. Sementara Joko, Somad, Andika dan rekan-rekan lainnya bermain air dan bersendau gurau. Dari raut wajah mereka, terlihat bahwa touring ini memang mereka butuhkan. Sebuah kesempatan untuk berelaksasi dari rutinitas keseharian. “Yang tidak ikut, pokoknya nyesel banget deh!” ujar Disa saat diwawancarai dengan handycam. Handoko “kodok” berkata, “Touring kali ini mantap! Ajib!”

Kiri ke kanan: Anto, Toto dan Disa.

Joko Gipih

Perlahan namun pasti, KHCCers mulai menenangkan diri. Ada yang berendam dengan santai, ada pula yang tiduran di sisi kolam. Sementara tak sedikit yang mengobrol sambil berendam di sisi lainnya. Beberapa diantaranya bahkan duduk di bangku, di dekat kolam, sambil menyeruput minuman ringan. Momen ini memang dinikmati benar oleh semua anggota rombongan.

Menjelang pukul 21.30, satu per satu merasa sudah cukup berendam diri. Tanpa komando, masing-masing mulai membilas diri dan mengganti baju. Mendekati pukul 22.00 kami mulai meninggalkan lokasi pemandian. Tampang kami seperti sehabis mandi, tapi dengan mimik mengantuk. Konsekuensi yang wajar dari berendam di kolam air panas.

Tiba di pondokan, rasa nikmat berendam menyisakan kantuk yang hebat. Buktinya, tak butuh waktu lama bagi sebagian dari kami untuk mulai menyiapkan sleeping bag. Atau mengambil posisi selonjoran di tikar/karpet. Menjelang pukul 23.00, sebagian besar sudah “merapatkan barisan” di kamar tidur. Sisanya masih asyik ngobrol di ruang tamu. Saya sendiri, setelah meniup bantal portable dan menggelar sleeping bag, langsung merebahkan diri. Entah pukul berapa saya tertidur. Yang pasti, untaian nada “Hutan Cemara”-nya KLA Project yang saya dengarkan dari Ipod membuat saya terlelap dalam waktu singkat.

Bersambung ke bag. 2…

One response to “Touring Ciater – Tangkuban Perahu, Merangkai Kebersamaan Dalam Susah dan Senang (bag 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s