Bandung: Antara Otak-otak dan Kopi Ireng.

Ketika seorang kawan mengajak untuk mengunjungi kota Bandung, awalnya saya sangat segan mengiyakan ajakan tersebut. Selain waktu itu bertepatan dengan long weekend akhir tahun, toh badan ini masih lelah karena baru saja bulak balik merayakan natal bersama keluarga besar. Tapi seketika juga saya ingat sebuah persinggahan yang saya temukan beberapa tahun lalu saat berkunjung ke Bandung. Keinginan untuk mengunjungi kembali tempat yang menyejukkan inilah yang akhirnya membuat saya menyetujui ajakan kawan saya.

Alhasil, Minggu pagi kami sudah berangkat menuju Bandung. Dan setelah menemui jalan yang mulus sepanjang Cipularang, mimpi buruk saya terwujud. Memasuki kota Bandung dari gerbang tol Pasteur, kami menghadapi kemacetan parah. Tidak tanggung-tanggung, untuk menempuh jarak dari jembatan Pasteur menuju Gasibu saja, memakan waktu satu setengah jam! Uedan! Padahal seumur-umur tinggal di jakarta, belum pernah memakan waktu lama menempuh jarak yang Cuma 1 kilometer itu.

Tak lama kemudian kami tiba di jl. Riau, dimana banyak FO (factory outlet) berada. Tapi karena memang tidak berniat belanja, saya memutuskan untuk bergerilya mencari cemilang ringan. Yah, apalagi kalau bukan otak-otak bakar dan batagor khas bandung. Bagi yang biasa “berkunjung” ke jalan ini, khususnya penikmat belanja FO, pastinya tahu dua makanan ini. Tempatnya di samping FO Heritage.

No-Q yang juga tidak berniat belanja, segera merapatkan barisan. Tanpa komando, dua porsi otak-otak bakar langsung tersedia. Dengan harga satu porsi 25 ribu, dengan isi sepuluh potong otak-otak bakar. Mahal? Mungkin. Tapi jika merasakan keempukannya, sungguh tidak terbayar. Dagingnya tidak amis, lembut di lidah dan sambalnya yang pedas, terus bergerilya di dalam mulut, adalah konsekuensi logis dari kenikmatan otak-otak ini. Namun, serasa belum puas dengan otak-otak, saya melanjutkan dengan menu selanjutnya, batagor. Entah kenapa, serasa tidak klop jika ke Bandung, tanpa menikmati batagor. Sambal kacangnya gurih, potongan tahunya renyah dan empuk. Tentu saja sambil menikmati riuh rendah para pembelanja.😀

Singkat kata, setelah Refano dan keluarga puas berbelanja, kami lanjut ke arah Dago. Targetnya adalah sebuah tempat, yang beberapa kali saya kunjungi. Namanya Kopi Ireng.

Saat menuju daerah Dago Pakar, tempat dimana Kopi Ireng berada, sempat juga kami menyasar karena salah berbelok. Alhasil saya jadi bulan-bulanan seisi mobil.  Namun misi yang tadinya terancam gagal bisa diperbaiki ketika kami menemukan jalur yang benar. Oh ya, bagi anda yang ingin mengunjungi Kopi Ireng, letaknya di daerah Dago Pakar. Dari simpang Dago, lurus saja ke arah atas. Setelah papan nama yang mengarahkan Dago Pakar terlihat, cari belokan sebelah kiri dengan plang papan nama cafe-cafe yang bertebaran. Kalau tidak salah, setelah papan penunjuk tersebut, belokan ke kiri nomor dua. Atau cari saja papan nama mengarah ke The Valley.Menuju Kopi Ireng, udara segar mulai menyambut. Belum terlalu dingin, tetapi hawanya jelas berbeda dengan yang kami rasakan saat terjebak macet ketika baru tiba di Bandung. Di kiri-kanan, banyak terdapat villa-villa atau rumah makan/café. Banyak jenisnya, saya sampai tidak berniat menghafalnya. Kopi Ireng sendiri berada di sisi kiri jalan.

Kopi Ireng mempunyai bangunan yang menyerupai rumah Joglo. Dan kesannya jauh dari restoran atau café pada umumnya. Konstruksinya, hampir semuanya terbuat dari kayu. Saya rasa kayu jati. Desainnya yang mirip rumah tadi, membuat kesan hommy dan nyaman. Kursi, meja, tiang bahkan sampai tangganya pun terbuat dari kayu yang tidak dicat. Warnanya dibiarkan alamiah, coklat, usang tapi kokoh. Serasa tinggal di rumah di tengah-tengah hutan. Oh ya, sebelumnya, kita harus mendaki beberapa puluh anak tangga terlebih dahulu. Bagi yang membawa orang tua lanjut usia, disarankan mendakinya pelan-pelan. Biar gak kehabisan napas.😀

Nah, Kopi Ireng ini terbagi dalam dua bagian. Lantai bawah dan lantai atas. Untuk lantai bawah, ada teras yang menjorok jauh ke luar di sisi kiri (dari dalam). Lalu ada juga dua teras di sisi kanan dan kiri. Nah mungkin inilah tujuannya mengapa rumah Kopi Ireng ditempatkan di posisi tertinggi. Sebab, dengan begini, pemandangan perkebunan yang hijau terlihat.

Sementara, di ruangan dalam, ada dua ruangan (kalau tidak salah). Masuk lebih dalam lagi, kita akan menemui dapur dan halaman kecil di belakang. Benar-benar persis seperti rumah. Kita pun bisa melihat si koki memasak pesanan. Dan uniknya lagi, para pramusaji, yang mayoritas kaum hawa, menggunakan seragam hitam dengan baret hitam. Jaduh dari kesan sangar, tapi feminim dan cekatan.😀

Nah bagian primadona Kopi Ireng terletak di lantai dua. Terdiri dari dua sisi, kiri dan kanan. Modelnya seperti balkon. Ada bagian dalam, dan luar. Yang membuatnya begitu istmewa adalah suguhan pemandangan yang diberikan. Kita bisa melihat jauh ke arah kota Bandung.. Jadi, pemandangan indah  + makanan = sesuatu yang tidak bisa ditolak.

Kami menempati balkon sisi kanan. “Mantab, gak percuma bermacet-macet ria!,” ujar No-Q seorang kaskuser yang ikutan dalam perjalanan kali ini. Di balkon kami, tersedia meja panjang dari kayu. Lalu ada juga kursi kayu. Untuk yang terakhir, secara harfiah memang demikian. Hanya sebuah batang kayu panjang, ditempatkan di atas batang kayu lainnya. Jadilah kursi. Beberapa kali kami menyesuaikan posisinya yang kerap bergeser. 😀

Untuk makanan pembuka, saya sengaja memesan pisang goreng. Bagi anda yang baru pertamakalinya berkunjung, saya rekomendasikan memesan ini untuk membangkitkan selera. Saya pesan dua porsi, dimana masing-masing terdapat 3 buah pisang goreng per porsi. Sesuai dugaan saya, kualitasnya tidak berubah. Pisang goreng yang datang 20 menit kemudian, benar-benar seperti yang terakhir kali saya rasakan. Renyah, lembut, dan lapisan terigunya tidak terlalu banyak. Pas! Oh ya, ada juga bumbu coklat yang ditaburkan menyerupai logo Kopi Ireng. Potong, colek sedikit bumbu coklatnya dan nyam! Eit nanti dulu, ditambah lagi dengan minum lemon tea hangat. Tiba-tiba saja kenangan manis terkena macet langsung di melarikan diri dari memori.😀 Sementara No-Q dan Refano masih asyik mengebulkan asap rokok, saya “bersaing” dengan Fara, anak Refano yang masih 3 tahun, untuk mendominasi penguasaan pisang goreng tersebut.

Lalu menu utama pun dipesan. Refano memesan ayam goreng Rempah, sementara saya dan No-Q memesan Iga Bakar Kopi. “Nih rasanya bagaimana? Baru sekali nih gue tahu ada Iga rasa kopi.” Ujar No-Q. “Yah lu rasain sendiri aja deh.” Jawab saya meyakinkannya. Tak lupa dua porsi kentang goreng kami pesan. Entah kenapa, rasanya tidak pas tanpa cemilan yang satu itu.

Nasi goreng rempah yang dipesan Refano juga merupakan salah satu primadona di Kopi Ireng, paling tidak menurut saya. Nasi goreng ini, dibuat dengan menu campuran rempah-rempah. Mulai dari lada, kemiri dan lain-lain. “Gue penasaran sama namanya. Pengen coba ah…“ demikian jawab Refano ketika saya tanya mengapa memesan makanan tersebut. Nasi goreng tersebut merupakan kombinasi dari olahan bumbu rempah-rempah, plus ayam suwir, telor mata sapi dan kerupuk udang.

Lalu untuk Iga Bakar Kopi sendiri, ini adalah menu spesial. Seingat saya, rasanya belum pernah menemukan restoran kopi punya menu seperti ini. :p “Iganya dibakar, dikasih bumbu, dan ditambahkan saus kopi.” Demikian penjelasan pramusaji ketika No-Q menanyakan perihal Iga Bakar Kopi.

Sambil menunggu makanan tiba, tidak terasa sinar matahari sudah redup. Tampak dari kejauhan, pancaran lampu-lampu dari kota Bandung dan sekitarnya mulai menarik perhatian. Belum lagi tepat di depan kami, bukit yang berisi perkebunan, dengan (sepertinya) perumahan elit. Well, paling tidak masih ada sedikit pemandangan selain rumah-rumah itu. Ironisnya, lampu-lampu dari rumah-rumah tersebut justru menjadi warna tersendiri, diantara bukit-bukit hijau yang tak bercahaya di malam hari.

Tak lama kemudian, menu pesanan pun tiba. Dimulai dari nasi goreng pesanan Refano, lalu kentang goreng dan kemudian dua porsi Iga Bakar Kopi. Untuk yang terakhir, sudah termasuk satu porsi nasi putih. Iga bakarnya sendiri disajikan secara terpisah. Iga bakar yang bewarna kehitaman, dibalut dengan saus kental berwarna kecoklatan. Sementara, kuahnya sendiri disajikan dalam mangkuk berukuran sedang.

Walaupun sama-sama dari Sumatera, terlihat saya dan No-q mempunyai cara yang berbeda dalam menyantap makanan. No-Q memilih cara konvensional, menggunakan sendok dan garpu. Sementara saya, (maaf) menggunakan tangan secara harfiah.😀 alasannya cukup jelas. Saya, entah kenapa, tidak rela kenikmatan saus iga yang renyah itu “dirampas” oleh sendok dan garpu.

“Mhh…” ujar no-Q sambil menganggukan kepala. “Mantab nih. Ok lah.” Sambungnya lagi sesaat setelah menikmati Iga Bakar tersebut. Lagi-lagi saya merasakan konsistensi sang koki dalam sajian ini. dagingnya lembut, empuk dan sausnya yang sedikit asin, masih membekas di memori saya. Selain itu, tidak ada daging yang susah “dirampas” dari tulangnya. Semua daging, dengan mudah saya lahap dan menyisakan tulang-belulang. Tapi apa mau dikata, belum selesai Iga tersebut saya santap, stok nasi sudah habis. Alhasil, satu porsi nasi putih kembali didatangkan.😀 Saking nikmatnya iga tersebut, saya lupa menghabiskan sop yang menemaninya.

No-Q masih asik dengan Iga bakar saat Refano, yang bisa dipanggil Bombay berkomentar, “Wah ini nasi goreng pas untuk abang ipar gue. Rasa rempah-rempahnya kena banget. Terutama ladanya. Manteb nih.” Tukasnya sambil mengunyah suwiran ayam nasi goreng tersebut. Bombay memang mempunyai abang ipar kelahiran India. Jadi, wajar jika dia hapal selera abang iparnya tersebut.

Hampir setengah jam lebih kami “senyap” sembari menikmati makanan. Mungkin karena lapar, mungkin juga karena cuaca dingin yang mulai menghampiri. Maklum, Dago pakar sudah termasuk dataran tinggi. Ditambah lagi posisi Kopi Ireng yang bertingkat, lengkap sudah. Lapar adalah sebuah konsekuensi.

“Pemandangan seperti ini, gak bakal ada di Jakarta. Keren dah.” tegas No-Q sambil mengirup dalam-dalam rokoknya, sambil menatap terang benderang formasi lampu di kejauhan.  Sementara, Fara, anak Refano, mulai asik bermain menutup dan membuka jendela bagian dalam balkon tersebut. Refano sendiri, menyempatkan diri merebahkan diri di bangku panjang yang dilapisi semacam “kasur” tipis. Saya tidak ingin hanyut. Langkah selanjutnya adalah menseleksi secara ketat minuman penutup. Apalagi kalau bukan kopi.

Setelah sibuk “menginterogasi” pramusaji, No-Q memesan Zig Zag Cappucino. Mungkin dia tertarik dari namanya, mungkin juga karena memang penikmat Cappucino, Entahlah. Yang jelas, saya memutuskan memesan Carramel Machiato. “Awas lu, gak bisa tidur ntar!” tegas Refano ketika mendengar penjelasa pramusaji ada unsur espresso di situ. “Wah itu bagus, supaya ada yang ngawasin lu. Supaya gak ugal-ugalan pas pulang.” No-Q menimpali yang disambut tawa kami bersama. Entah kenapa, minuman kopi menjadi kesepakatan kami bersama. Mungkin karena harus pulang hari itu juga sehingga membantu terjaga selama perjalanan. Refano memilih aman dengan memesan ice Coffee.

Saat menunggu pesanan tiba, saya agak deg-degan juga. Pasalnya,  saya belum pernah mencicipi tipe ini. Hanya menu kopi tubruk yang sempat saya cicipi, yaitu Sidikalang dan Wamena. Mudah-mudahan saja cocok di lidah, pikir saya.

Caramel Machiato pesanan saya pun tiba. Bersama dengan minuman lainnya. Dari penjelasan pramusajinya, ini adalah gabungan dari Illy Espresso, susu dan foam di atasnya. Awalnya sempat khawatir rasa kopi tertutupi susu, tapi kekhawatiran itu sepertinya terlalu berlebihan. Mana mungkin espresso dikalahkan susu?😀 Tebakan saya benar 110%!

Disajikan dalam bentuk cangkir kecil, espresso ditemani oleh cangkir berukuran sedang, yang berisi susu. Lalu, tanpa banyak tingkah, saya tuangkan espresso ke dalam cangkir berisi sus tersebut. Itu cara saya, mungkin orang lain berbeda. Dan ketika saya coba, auch! Pahit sekali! Kusutnya muka saya menjadi bahan tertawaan teman-teman. Lalu dicampurlah gula, dan kenikmatannya mulai terasa. Illy Espresso-nya Kopi Ireng sangat mendominasi, sementara susunya menjadi pengisi. Jika boleh digambarkan, rasa kopinya tetap di lidah, sementara susunya “numpang liwat”. Otomatis saya menagih kembali rasa kopi, dan meminum lagi. Begitulah seterusnya.

No-Q pun terdiam seribu bahasa saat menikmati pesanannya, Zig-Zag Cappucino. Jika diperhatikan, presentasi minuman ini cukup menggoda. Ada semacam layering atau pelapisan yang digunakan. Sepertinya bagian tengah adalah coklat, di bawah adalah kopi dan diatas adalah milk foam. Cantik dan mengundang selera. Tak ada suara dari kami. No-Q hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum, sesaat setelah mencicipi. Rasa puas tergambar dari wajahnya.Malam sudah mulai gelap ketika kami menikmati saja apa yang ada dihadapan kami. Lampu-lampu yang memancarkan cahaya dari kota Bandung, udara dingin Dago yang mulai menusuk, hingga suasana yang comfort di Kopi Ireng. Tak lupa, sesekali menyeruput kopi kami. No-Q asyik mengupdate foto-foto makanan dan minuman yang kami santap, serta mengunggahnya ke jejaring sosial Facebok. Sementara, Refano menikmati rokoknya sambil memandang jauh ke arah cahaya gemerlap kota Bandung.

Empat jam kemudian, saat beristirahat di rumah, terbersit keinginan untuk kembali lagi ke sana, ke Kopi Ireng. Saya berandai ketika hujan gerimis di sore hari, dan menikmati sajian dari atas balkon.  Rasa kantuk yang mendalam pun membuat saya menghentikan sejenak khayalan itu. Tapi sesaat sebelum tertidur, sempat bertanya dalam hati. Mengapa tidak pesan Orange Coffee, Dark Angel atau Latte Espresso? Belum sempat terjawab, mata sudah terpejam dan alam mimpi mengambil alih. Mudah-mudahan saat bermimpi, bisa mampir lagi ke Kopi Ireng. (hnr)

“Kerugian” :
Iga Bakar Kopi > 49.000
Nasi Goreng Rempah > 28.000
Kentang Goreng > Lupa😀
Zigzag Cappucino > 28.000
Caramel Machiato > 28.000
Pisang Goreng > 17.500

Koordinat kopi ireng : 6° 51′ 28″ S, 107° 38′ 17″ E

7 responses to “Bandung: Antara Otak-otak dan Kopi Ireng.

  1. Kapan mau kesana lagi dat’s…..
    heheheheeee boleh juga nich tempat… piu-nya caem bgt dagh
    jl. riau… hmmm ga boleh lepas tuu dr camilan…. ajibbbbbb
    ^___*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s