Sarapan di Cipanas, Makan Siang di Cikampek. Perjalanan Menuntaskan Rasa Penasaran. (bag. 2)

“Lu tahu gak jalan tembus dari sini ke Cipanas?” tanya Alex kepada saya sesaat sebelum melanjutkan perjalanan. Saya hanya mengangguk. Sementar Shandi menjawab, “Pasti tembus lah. Masak kita gak tembus. Toh kalo nyasar bersama-sama, gak sendirian. Jadi, malunya gotong royong!” seloroh pemuda asal pekalongan ini. Kontan kami bertiga tertawa renyah mendengarnya. Dan benar saja, 15 menit kemudian, berangkat dari bubur pak Maman, kami tiba di jalan raya Cipanas. Tidak ada tanya sana-sini. Hanya bermodalkan membaca papan penunjuk jalan, dan sedikit semangat menduga-duga, ketemu juga.

Perjalanan dari Cipanas menuju Padalarang via Cianjur mungkin menjadi sedikit membosankan dan membuat ngantuk. Sebab, jalurnya cenderung lurus. Walaupun kami mendapat sedikit “hiburan” ketika memasuki wilayah Cipatat dan Citatah, dimana jalur yang menanjak dan berlika-liku meminta untuk dicumbui. Toh, tetap saja truk besar yang berjalan pelan, menjadi hal yang mesti dihadapi. Alhasil, tingkat kewaspadaan semakin tinggi. Saat berada di jalur ini, saya merasa ngeri campur takjub kepada para pengendara motor. Bagaimana tidak, dengan santai mereka mendahului mobil/truk saat di tikungan! Padahal dengan begitu, kita tidak bisa melihat apakah ada kendaraan setelah tikungan atau tidak. Berani atau nekat? Tak tahulah. Yang pasti, kami bertiga melepas formasi dan memilih sendiri posisi yang nyaman. Kadang Alex di depan, kadang juga saya dan Shandi di depannya. Yang penting, posisi kami harus bisa terlihat oleh pengendara lain. Maklum, pengendara motor acapkali tidak disadari keberadaanya oleh pengemudi mobil/truk.

Nah, saat tengah sibuk-sibuknya mencari celah mendahului truk, mata saya melihat fuel indicator. Garis terakhir sudah menyala kelap-kelip. Tandanya bahan bakar sudah mau habis. Timbul pertanyaan di benak, sudah benar-benar habis, atau masih bisa menyuplai tenaga hingga ke Padaralang? Entahlah, demi antisipasi, saya mengambil posisi di kiri jalan, tidak berani melakukan overtake. Antisipasi mati di tengah jalan, yang bisa berakibat fatal. Dan lagi-lagi analisa saya terbukti presisi (atau sekedar beruntung?). Saya tidab di spbu daerah Padalarang tanpa mengalami masalah di mesin. Saat isi ulang, bensin diisi 3,51 liter dari total kapasitas 3,7 liter. Artinya bbm saya tinggal 0,29 liter. Kemungkinan masih sanggup hingga 3-5 kilometer lagi. Akhirnya yakin, ini bukan keberuntungan. Sebab, saya sudah pernah menghitung berapa tepatnya konsumsi bbm motor ini. Jadi paham betul berapa konsumsi bbm saya.

Rute Padalarang – Cikampek mungkin merupakan klimaks bagi kami. Rute ini lah yang membuat kami bangun di pagi hari, dan menembus pekatnya hawa dingin dan melawan rasa kantuk tadi pagi. Jalur primadona yang dulunya dilewati berbagai bus jurusan Bandung ini, kini tidak lagi ramai dengan kendaraan sejenis. Hanya truk, kendaraan bak terbuka dan sesekali mobil pribadi. Sisanya diisi motor penduduk lokal. Beberapa kali kami berpapasan dengan bikers yang melakukan touring (terlihat dari box dan rombongan) melalui jalur ini. Ada yang beramai-ramai, ada yang sendirian. Aspal di jalur ini sungguh mantap. Percaya atau tidak, jangan harap menemukan lubang menganga layaknya jalan Gatot Subroto atau MT. Haryono di Jakarta. Permukaan mulus, jalan berliku serta kombinasi tanjakan dan turunan, menjadikan rute ini layak dicoba. Belum lagi banyaknya perkebunan di kiri dan kanan, seakan membangkitkan atmosfer petualangan bagi penikmat adventure ride. Tetapi nanti dulu, itu belum semuanya. Bersiaplah menarik napas, menguji nyali dan melihat sejauh mana kesabaran serta kemampuan anda berkendara. Mengapa? Pernah menemui truk gandeng di jalur Cisarua-Puncak Pass? Pasti belum pernah. Nah bayangkan jalur seperti itu, dan anda menemui kendaraan dengan jumlah ban sebanyak 22 buah. Adrenalin dipastikan mendekati puncaknya. Mendahului truk angkut atau mobil pribadi di tikungan saja, perlu analisa cermat sepersekian detik. Tehnik berkendara dan overtake sungguh menjadi penting. Kombinasi suasana yang beresiko tinggi, kemampuan berkendara dan kemampuan meredam emosi, menjadi bumbu penyeimbang berkendara di rute ini. Tidak ada tempat untuk kesalahan. Sungguh!

Selama dua jam itulah, kami bertubi-tubi “dihantam” debu dan juga pecahan-pecahan tanah keras dari ban truk atau trailer yang melintas . Di tengah cuaca yang cerah, dan matahari terik, kami berjibaku melawan rasa kantuk dan lelah hanya demi memuaskan rasa penasaran untuk menyelesaikan jalur ini. Kadangkala, emosi memuncak atau rasa lelah menggoda. Tetapi hasrat ini terus menyemangati diri berkonsentrasi. Beberapa kali melewati landmark seperti perkebunan karet, dan juga perkebunan teh. Belum lagi saat melewati kolong jembatan tol Cipularang atau melihat jauh ke arah jalur tol tersebut dengan jembatan tingginya. Rute ini terus menggoda kami untuk mencumbuinya.

***

Setelah empat jam meninggalkan bubur ayam Pak Maman di Cipanas, kami tiba di Purwakarta. Itupun sehabis bersabar sejenak menghadapi kemacetan karena bubaran jam pulang karyawan pabrik. Untuk menaklukkan rasa lapar, kami menepi sejenak di Sate Maranggi, Cikampek. Tempat ini sudah lama menjadi “target operasi” kuliner kami. Maklum, sering dibicarakan, tetapi tak pernah didatangi. Dua porsi sate, tiga gelas es jeruk, satu porsi sup sapi dan tiga bungkus nasi menjadi sasaran tembak rasa lapar. Dan seakan itu belum lengkap, Alex memesan 1 porsi gorengan berisikan bakwan dan combro dengan jumlah sepuluh potong. Sesaat setelah makanan tiba, langsunglah kami “beraksi”. Nasi yang dibungkus dengan daun pisang, saya siram dengan kuah sop sapi. Kuahnya sendiri, agak sedikit kurang kuat, rasa supnya, tetapi masih bisa saya maklumi. Setelah itu, langsung mencicipi sate Maranggi yang terkenal itu. Agak sedikit keras dagingnya, tetapi bumbunya sangat terasa kuat. Kombinasi antara manis dan pedas, membuatnya pasangan yang pas dengan sup. Tak lupa, bakwan goreng menjadi pelengkap. Entah karena lapar, atau suasana ramai, belum sempat menghabiskan yang ada, kami sudah memesan lagi. Shandi memesan karedok dan Alex kembali memesan 1 porsi sate , serta 3 nasi bungkus tambahan. Kali ini, menunya kembali membuat kami sedikit kalap. Nasi hangat yang pulen, disandingkan dengan sayuran segar dan sambal kacang karedok membuat mulut ini sulit sekali berhenti melahap. Dan tidak lupa, sesekali melumat daging sate dengan tomat pedas yang berfungsi sebagai sambal! Saking pedasnya, tidak ada yang sanggup menghabiskan bumbu tomat tersebut. Dari semua menu tersebut, hanya tersisa tiga potong combro. Alex sebagai pemesan gorengan menolak memertanggungjawabkan “perbuatannya”. “Dah gak muat lagi!” ujar pria berkacamata ini. Sementara Shandi, “Wah, gue udah full. Gak mampu lagi.” Ujarnya sambil menunjukkan mimik kekenyangan.

***

Akhirnya makanan tersebut kami bungkus, dibawa pulang, dan dikemas seperti layaknya oleh-oleh. Tepat pukul 15.00, kami meninggalkan Sate Maranggi dengan segala keramaian dan keteduhannya. Menghindari simpang Jomin, kami melalui area bukit indah dan juga melintasi Ring Road Karawang. Nah yang terakhir ini, merupakan jalur lurus yang merupakan jalur singkat menghindari pusat kota Karawang. Bagi speed lover, awas, hasrat anda untuk ngebut dijamin tergoda. Pasalnya, jalur ini, cendereung lurus dengan permukaan yang mulus. Tanpa persimpangan sama sekali! Ride safe brada…

Menjelang maghrib, kami tiba di Bekasi Timur. “Kembali ke peradaban.” Kami harus beradaptasi dengan padat dan ricuhnya lalu lintas kota. Kali ini, energi dan konsentrasi habis bukan untuk melahap tikungan atau menghindari truk. Melainkan, bersabar menahan emosi menghadapi tingkah polah pengendara yang cenderung tidak menghargai sesama pengguna jalan. Tak lama kemudian, tiba di rumah saya, untuk beristirahat sejenak. Sambil meluruskan kaki, kami tertawa terpingkal-pingkal ketika melihat raut muka Eko, seorang teman yang sumringah membuka bungkusan combro yang disangkanya oleh-oleh. Bercanda khas bikers. Menjelang pukul 19.00, setelah mencicipi es teh manis racikan Eko, Shandi dan Alex Pamit pulang. Belakangan saya ketahui, kami bertiga menikmati sekali tidur malam itu.

Bagi sebagian banyak orang, apa yang kami bertiga lakukan hari ini, mungkin dicap kurang kerjaan atau buang-buang waktu. Itu sah-sah saja. Toh sejarah mencatat, esensi dari petualangan sangat sulit dipahami, bahkan hingga saat ini. Toh bagi kami, menjawab rasa penasaran, melintasi jalur Padalarang-Purwakarta, adalah petualangan tersendiri. Menuntaskan rasa penasaran atas dasar eksloprasi kepada hal-hal baru, adalah sesuatu yang manusiawi. Bisa jadi, rasa penasawan pula yang membuat Norman Edwin memberanikan diri menelusuri gua di seluruh penjuru Nusantara dan menjadi pelopor Speleologi (ilmu penelusuran goa) di Indonesia.😀

Rasa penasaran memang bisa membawa kita ke hal-hal tak terduga. Siapa tahu, justru karena rasa ini, kami bisa menemukan lebih dalam lagi pesona nusantara negara yang masih dihinggapi korupsi ini. Entah dengan berkendara motor, mobil, mendaki gunung atau apa saja. Let’s live curios!(hnr)

16 responses to “Sarapan di Cipanas, Makan Siang di Cikampek. Perjalanan Menuntaskan Rasa Penasaran. (bag. 2)

    • top speed? gak merhatiin bro…
      yah dapetlah 80-90 km/jam… tapi itu cuma sesekali doangan…
      lah wong treknya bilukan mulu….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s