Sawarna, Tanjung Layar

Bagian Terakhir dari empat tulisan.

Lupakan soal sunrise, itu yang ada di dalam benak saya saat bangun tidur pagi ini. Sinar matahari sudah nampak saat Andry menyibak tirai jendela. “Ayo guys, kita ke pantai.” Ujarnya dengan muka agak segar karena baru saja cuci muka. Ochep merespon dengan bangun, dan bergegas ke kamar mandi. Yah, ritual setiap orang yang baru bangun itu tak perlu dikomentari lagi. Windu, sepertinya masih asyik di “alam” seberang sana. “Beuh, nih orang kayaknya lagi nanjak di Cikidang nih!” ujar Ochep saat mengomentari “melodi” suara mendengkur Windu. Andry dan saya hanya tersenyum. Namun tak butuh waktu lama bagi pria bertubuh tambun itu untuk keluar dari alam mimpinya, dan akhirnya kembali ke dunia nyata.

Pantai Putih1

Berempat, kami mulai menelusuri jalan setapak menuju pantai dengan berjalan kaki. Baca lebih lanjut

Iklan

Sawarna, Pantai Laguna Pari

Laguna Pari1

Bagian ketiga dari empat tulisan.

Mendekati pukul 4 sore, kami berempat, ditemani oleh Kang Deden yang menjadi pemandu kami mulai berjalan ke Laguna Pari menyusuri jalan setapak. Kondisi jalur perjalanan dari gua Lalay ke Laguna Pari memang menguras tenaga. Maklum saja, jalannya sedikit menanjak bukit. Andry & Windu yang tengah menikmati puasanya, cuma bisa tersenyum saat saya menanyakan kondisi mereka berdua. Maklum, di tengah cuaca yang lumayan hangat, khas daerah tropis, aktivitas ini lumayan mengundang dahaga. Tanjakan awalnya cukup terjal. Saking terjalnya, Andry & Windu sempat beristirahat sejenak, sebelum kembali berjalan.

“Ayo semangat, cuma di sini doang tanjakannya. Nanti di depan sana, pemandangannya bagus. Gak ada lagi tanjakan. Baca lebih lanjut

Sawarna, Menggapai Gua Lalay

Bagian kedua dari empat tulisan.

 Gua Lalay ini adalah salah satu obyek wisata di kawasan Sawarna. Dari arah keberangkatan melalui Pelabuhan Ratu, posisinya kurang dari 1 kilometer sebelah kiri sebelum Desa Sawarna. Tapi jangan senang dahulu. Itu baru jalan masuknya. Kita harus berkendara di sela kepadatan rumah penduduk. Tetapi tanya saja penduduk di pinggir jalan, mereka pasti bisa memberitahu kemana arahnya.

Gua Lalay1“Jadi, kita mau coba jalur yang mana nih?” tanya Ochep, begitu kami tiba di mulut gua Lalay. Tidak ada yang menjawab pertanyaan pria penggemar olahraga sepeda itu. Kami bertiga justru masih asyik membaca peta gua dan legenda (keterangan) yang ada di pos pemandu Gua Lalay. Melihat itu, Ochep hanya bisa menggaruk kepalanya yang plontos. Baca lebih lanjut

Menuju Sawarna

Bagian pertama dari empat tulisan.

Sawarna. Nyaris 2 tahun lalu pertama kali mendengar nama ini dari seorang teman yang hobi melakukan perjalanan. Akhirnya 2013 ini bisa mendatangi salah satu pesisir selatan yang menjadi bagian dari “Kerajaan Laut Selatan” sang Nyai Roro Kidul itu. Terletak nyaris 200 kilometer dari Jakarta, seperti biasa saya akan mencapainya menggunakan sepeda motor. Hanya saja kali ini saya menggunakan sebuah skutik, bukan sport ataupun motor bebek. Ada 3 teman yang turut serta; Windu, Ochep dan Andry. Perjalanan ini kami lakukan 5-6 Agustus lalu.

@ Cikidang

@ Cikidang

Udara cukup sejuk saya rasakan saat bertemu dengan Ochep dan Windu di sebuah Stasiun Pengisian  Bahan Bakar di Jalan Raya Kalimalang, Jakarta Timur. Maklum saja, masih pukul 4 pagi. Yah, kami memang sepakat untuk berangkat dini hari. Salah satu alasannya, ingin menghindari arus mudik di bulan Ramadhan. Andry nantinya akan bertemu kami di SPBU Warung Jambu, Bogor.

Dari Kalimalang, kami memilih jalur melalui Pondok Gede – Kranggan – Jl. Transyogie Cibubur – Cisalak hingga tiba di jalan raya Bogor. Lalu lintas yang sepi, jalan pinggiran kota yang lumayan mulus, mengundang kami untuk berkendara santai. Melewati  Jalan Raya Bogor, kami bertiga mulai menambah kecepatan. Yah, sekitar 60-70 kilometer per jam. Tidak terlihat adanya arus mudik yang padat ke arah kota hujan. Walaupun demikian, Baca lebih lanjut