Sawarna, Menggapai Gua Lalay

Bagian kedua dari empat tulisan.

 Gua Lalay ini adalah salah satu obyek wisata di kawasan Sawarna. Dari arah keberangkatan melalui Pelabuhan Ratu, posisinya kurang dari 1 kilometer sebelah kiri sebelum Desa Sawarna. Tapi jangan senang dahulu. Itu baru jalan masuknya. Kita harus berkendara di sela kepadatan rumah penduduk. Tetapi tanya saja penduduk di pinggir jalan, mereka pasti bisa memberitahu kemana arahnya.

Gua Lalay1“Jadi, kita mau coba jalur yang mana nih?” tanya Ochep, begitu kami tiba di mulut gua Lalay. Tidak ada yang menjawab pertanyaan pria penggemar olahraga sepeda itu. Kami bertiga justru masih asyik membaca peta gua dan legenda (keterangan) yang ada di pos pemandu Gua Lalay. Melihat itu, Ochep hanya bisa menggaruk kepalanya yang plontos.

Gua Lalay2“Kalau mau yang pendek, bisa susuri jalur biru.” Ujar kang Dayat seorang koordinator pemandu menghampiri kami. “Waktu penyusuran Cuma 30 menitan. Yah pulang pergi 1 jam lah”, ujar kang Dayat dengan logat sundanya yang kental. Tak butuh waktu lama bagi kami untuk mengikuti saran kang Dayat. Langsunglah dikenakan helm dan headlamp yang sudah disediakan. Sandal harus kami lepas, dan segala macam perlengkapan yang tidak penting dan rentan basah dititipkan kepada kang Dayat yang menjaga pos. Apes bagi Andry. Pria yang baru saja usai menggelar ekspedisi bersepeda motor 1 bulan penuh di Sumatera ini kebagian “penitipan barang” di tasnya yang kedap air. Mulai dari ponsel, ipad, hingga kamera saku. “Eh, airnya gak terlalu dalam kan? Gue gak bisa berenang nih.” Tanya Andry yang langsung dijawab dengan tawa renyah Windu dan Ochep.

Peta Penelusuran Wisata Gua Lalay

Peta Penelusuran Wisata Gua Lalay

Arloji G-Shock saya menunjukkan waktu sekitar pukul 3 sore saat kami mulai memasuki mulut gua. Air bening nan sejuk menyambut kaki kami. Semakin dalam kami masuk, semakin tinggi pula permukaan air. Dasar sungai kecil yang menjadi jalur kami dipenuhi lumpur. Tepat sekali saran kang Dayat untuk tidak mengenakan sandal. Cahaya mulut gua, makin lama makin kecil. Headlamp yang kami gunakan menjadi satu-satunya sumber cahaya. “Ini bercak hitam apaan yah kang?” tanya Windu ingin tahu. “Oh itu kotoran kelelawar. Biasanya, kalau datang ke gua ini di pagi hari, banyak kelelawar yang masih bergantung di atas.” Ujar kang Deden sang pemandu sembari mengarahkan lampu portable-nya ke langit-langit gua yang tingginya sekitar 7-10 meter. “Kenapa dinamakan gua lalay?” tanya Windu lagi. “Lalay itu artinya kelelawar”, jawabnya. Dan serentak kami berempat merespon dengan jawaban “Oh, itu toh artinya.”

“Ini namanya apaan yah?” tanya Andry sembari menunjuk sebuah bentuk batu runcing yang menjulur ke bawah. “Itu stalagtit, eh, atau stalagmit yah?” Tiba-tiba saja ingatan saya mundur jauh ke belakang, ketika masih SMA. Saat itu, untuk pertamakalinya, saya mengenal dunia penjelajahan alam terbuka melalui buku “Mendaki Gunung, Sebuah Tantangan Petualangan” karya penjelajah legendaris Indonesia, Norman Edwin. Bisa dibilang, Norman Edwin adalah salah satu perintis kegiatan penelusuran gua di kalangan pecinta alam. Belum selesai saya mengingat karya Norman Edwin, Windu kembali bertanya. “Nah, kalau yang ini apaan namanya?” sembari menunjuk ke batu yang terukir seperti ombak.

Gua Lalay7

Jalur berlumpur mulai menjadi andalan kami saat saya berusaha menjelaskan kepada Windu. “Itu yang menjulur ke bawah, namanya stalagtit. Yang menjulur ke atas, namanya stalagmit. Butuh waktu ratusan hingga ribuan tahun untuk membentuk seperti itu. Nah yang barusan lu tanya itu Ndu, namanya flowstone.” Jawab saya bagaikan ahli speleologi (ilmu tentang penelusuran gua). Baru saja saya selesai menjawab pertanyaan Windu, Andry kembali bertanya, “Nah ruangan kayak ini namanya apa nih?” Namun tiba-tiba Andry nyaris terjatuh karena licinnya lantai lumpur yang kami lewati. “Awas jatuh ndry” ujar saya bercanda. Ochep, entah kenapa, tetap menempel ketat sang pemandu.

“Kalo gue gak salah ingat, ini biasa disebut Chamber oleh penelusur gua. Mudah-mudahan gak salah.” Jawab saya sembari melanjutkan perjalanan melalui ruang yang dimaksud oleh Andry. Chamber yang saya maksud adalah sejenis ruangan lebar di dalam gua. Belum lama kami berjalan, tiba-tiba saja Windu tertarik oleh bunyi-bunyian di permukaan air. Karena penasaran, kami semua, termasuk sang pemandu berusaha mencari tahu dimana bunyi air itu. Awalnya saya mengira itu adalah bunyi kecipak air yang beradu dengan ruang hampa di dinding gua. Namun ternyata, ada sebuah botol plastik yang terjebak di ujung, tepat di bawah batu besar. Karena tidak ada peralatan yang dibawa, kami tidak bisa menjangkaunya. Kepada sang pemandu, kami mengingatkan untuk mengambil barang tersebut. “Nah loh! In kok ada bungkus permen? Dari plastik pula!” ujar Windu setengah teriak. “Gimana nih bro?” tanya pekerja di salah satu perusahaan taksi ternama itu. Saya pun menjelaskan kepada Windu, tiga prinsip penelusuran gua. “Take nothing but picture, kill nothing but time, leave nothing but footprint.” ujar saya. Windu mengangguk-angguk mendengar apa yang baru saja saya utarakan. “Wah, dalem banget itu filosofinya. Baru tahu gue. Kurang ajar bener yang buang sampah sembarangan di sini.”

Gua Lalay4

“Sst! Mulut lo tuh!” ujar Ochep mengingatkan Windu untuk menjaga tata wicara di tempat yang kerap dianggap keramat oleh masyarakat setempat ini. “Nah kita selesai di sini. Kalau mau lanjut lagi, harus menggunakan pakaian khusus penelusuran gua dan sepatu bot karena medannya agak lebih rumit ketimbang jalur yang kita telusuri ini.” Ujar kang  Dadan sang pemandu. Perjalanan kami “berakhir” di sebuah ruangan yang luas. Stalagtit dan stalagmit dengan semacam butiran mutiara kecil, memancarkan refleksi sinar keputihan.

Gua Lalay5

Usai berfoto bersama, kami pun kembali menelusuri jalan yang kami lalui saat masuk. Ochep, seperti biasa menempel ketat sang pemandu. Sementara Andry, tampak bersusah payah untuk tidak terjerembab kesekian kalinya. Dalam perjalanan pulang, Windu mencoba kembali untuk meraih botol minuman mineral  yang terjebak di sebuah himpitan batu yang tadi kami temui. Namun, posisi botol itu terlalu dalam dan jauh dari jangkauan tangan. “Sudah. Nanti biar saya yang ambil.” ujar kang Dadan sang pemandu. “Kenapa sih pengunjung gak bisa jaga kebersihan? Apa sebegitu susahnya yah?” sesal pemuda berkacamata itu.  Saya hanya bisa menepuk bahunya. “Sabar kawan. Setidaknya kita sudah menerapkan prinsip  yang kerap dipakai oleh para penjelajah gua di seluruh dunia.” Ujar saya menghiburnya. Windu pun menjawab, “Yah betul. Tidak mengambil apapun selain gambar, tidak membunuh apapun selain waktu dan tidak meninggalkan apapun selain jejak kaki. Mantab emang slogan lu bro.”  “Eh buset, itu bukan slogan gue Ndu. Tapi slogan para speleolog atawa penelusur gua.” Ujar saya memberikan “pledoi”.

Gua Lalay6

55 menit setelah memasuki salah satu perut bumi di pesisir selatan itu, kami kembali menemui sinar matahari. Saat keluar dari mulut gua, baru terpikir oleh saya beruntung sekali kita yang tinggal di wilayah tropis ini menerima hangatnya sinar mentari setiap hari. Lepas sudah suasana lembab dan dingin yang 1 jam lalu kami geluti. “Eh, tadi gue sempet sesak napas di dalem. Kenapa yah?” tanya Ochep. Kang Dayat yang mendengar itu menjawab, “Memang bang, beberapa titik di gua itu  ada sedikit debu-debu halus. Jadi ketika kita bernapas, agak sedikit sesak. Tapi tidak usah panik, itu masih bisa dilewati.” Ujarnya. Kang Dayat pun menjelaskan bahwa belum semua jalur di gua ini ditelusuri. Durasi tiap-tiap jalur bervariasi. Ada yang 2 hingga 3 jam, bahkan ada yang lebih. Ada yang sekedar mengenakan helm dan headlamp namun ada juga yang membutuhkan tali, webbing, sepatu bot sampai pakaian khusus. “Kami menyediakan semua perlengkapan yang dibutuhkan. Tapi tentu saja jumlah maksimal peserta yang masuk kami batasi demi alasan keselamatan. Sekali masuk, maksimal 3 pemandu menjaga 3 grup wisatawan. Semua pemandu kami sudah dilatih dan mengenal seluk beluk jalur yang mereka pandu.” Ujar kang dayat menjelaskan.

Sudah pukul 4 sore. Atas saran kang Dayat dan beberapa pemandu yang ada di pos, kami memilih melanjutkan perjalanan ke Laguna Pari. Kang Deden, pemandu yang awalnya memandu kami di gua, bersedia menemani kami ke Laguna pari. “Berapa lama jauhnya kang?” tanya saya. Sambil tersenyum kang Deden menjawab, “Yah, kalo saya mah Cuma 10 menit. Gak tahu deh kalo abang.” Mendengar itu, saya hanya tersenyum. Tampaknya bakal ada sedikit petualangan menuju Laguna Pari. Berlima, kami mulai menyusuri jalan setapak di samping sawah.

Bersambung…

One response to “Sawarna, Menggapai Gua Lalay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s