Sawarna, Pantai Laguna Pari

Laguna Pari1

Bagian ketiga dari empat tulisan.

Mendekati pukul 4 sore, kami berempat, ditemani oleh Kang Deden yang menjadi pemandu kami mulai berjalan ke Laguna Pari menyusuri jalan setapak. Kondisi jalur perjalanan dari gua Lalay ke Laguna Pari memang menguras tenaga. Maklum saja, jalannya sedikit menanjak bukit. Andry & Windu yang tengah menikmati puasanya, cuma bisa tersenyum saat saya menanyakan kondisi mereka berdua. Maklum, di tengah cuaca yang lumayan hangat, khas daerah tropis, aktivitas ini lumayan mengundang dahaga. Tanjakan awalnya cukup terjal. Saking terjalnya, Andry & Windu sempat beristirahat sejenak, sebelum kembali berjalan.

“Ayo semangat, cuma di sini doang tanjakannya. Nanti di depan sana, pemandangannya bagus. Gak ada lagi tanjakan.” Kang Deden menyemangati kami ketika napas ini mulai kembang kempis menapaki jalur menanjak yang lumayan curam. Namun kang Deden tidak berbohong. Begitu selesai berada di puncak bukit, angin menerpa tubuh yang disiram keringat. Pemandangan di depan mata seakan menarik kembali semangat yang sempat tenggelam. Sejauh mata memandang, ada Samudera Hindia di ujung cakrawala, padang rumput hijau, disertai dengan pohon-pohon kelapa. Dan, ah, ada beberapa kerbau di padang rumput tersebut. Saya hanya tersenyum. Kok apa yang saya lihat ini seperti lukisan-lukisan khas Indonesia tentang pemandangan, alam dan pegunungan. “Ayo lanjut lagi”, ujar kang Deden membuyarkan lamunan saya.

Jalur yang kami telusuri tidak terlalu jelas. Entah ini jalur yang dilewati wisatawan atau memang jalur khusus pemandu atau penduduk setempat. Namun yang pasti, mulai terdengar suara ombak. Andry, yang saat menanjak berada di posisi juru kunci, kini kembali semangat dengan senyum sumringahnya. Sembari menuruni jalur bukit tersebut, kami bersenda gurau soal perjalanan, jembatan goyang, hingga apa rasanya jika berkemah di pinggir pantai. Lambat laun, suara ombak terdengar makin jelas. Dan ketika begitu banyak nyiur melambai di hadapan kami, suara ombak itu pun makin kentara. Semakin memberikan “rasa” bahwa kami sedang menuju pantai.

Laguna Pari2“Mantab coy!” ujar Ochep yang berada di posisi terdepan saat kami tiba di perbatasan antara pantai dan area pohon kelapa. Dari pasirnya saja sudah mulai berubah. Yang awalnya berwarna coklat gelap, kini berwarna coklat muda. Sekilas seperti pantai putih. Dan ketika melewati pohon kelapa terakhir, apa yang kami tuju memang sangat layak untuk diperjuangkan. Sebuah pantai, sepi dan ombaknya yang bergejolak. Tidak ada orang lain, selain kami berlima. Bahkan sebuah warung yang menyediakan pendopo kecil pun, tidak buka. Latar belakangnya, jajaran pasir pantai yang bertemu dengan air laut selatan yang menggelora. Gak nyesel gue jalan kaki ke sini, ujar saya dalam hati.

Laguna Pari3Seketika, rasa lelah mendaki bukit menjadi lenyap. Suasana pantai yang sepi langsung mengundang kami berempat untuk mendekati sisa-sisa ombak di bibir pantai. Dan jadilah aksi memotret dimulai. Semua perangkat dokumentasi yang kami punya digunakan. Blackberry, Ipad mini, tablet hingga kamera poket. Foto sana, foto sini. Pose sana, pose sini. “Sebentar, nunggu ombaknya deket sama lu!” ujar ochep mengarahkan Windu layaknya fotografer majalah gaya hidup. “okay, siap, 1, 2 dan… ok!” ujar Ochep menyatakan gambarnya telah diambil dengan baik oleh Ipad mini miliknya. Andry, dengan kamera yang disertai kemampuan Geo Tagging juga sibuk jepret sana-sini. Saat kami sedang sibuk menyambangi laut yang konon, dipercayai menjadi rumah dari Nyi Roro Kidul, legenda laut selatan itu, matahari mulai surut.

Laguna Pari4Mata ini tidak berhenti berdecak kagum atas pemandangan sore di Laguna Pari. Pantainya sepi, pasir putihnya memberikan sensasi kenikmatan tersendiri saat memotretnya. Apalagi dengan deburan ombak yang sesekali cukup ganas. Melihat ke arah barat, tidak ada apapun selain pasir putih sepanjang garis pantai. Angin pantai yang datang dari arah lautan, seakan menyegarkan suasana sore ini. Setelah memandang sekumpulan kapal nelayan di sebelah timur, saya baru sadar, pantai ini sepi sekali. Memang hanya kami berlima di sini. Serasa memiliki pantai pribadi.

“Kok sepi kang?” tanya saya ke kang Deden. “Ini kan memang hari biasa. Memang selalu sepi seperti ini. Biasanya kalau akhir minggu pasti ramai. Apalagi nanti libur lebaran, bisa penuh ini pantai sama orang. Itu warung-warung bakal pada buka nantinya. Rame deh.” Jawab kang Deden.

Tanpa dikomando, kami berempat langsung duduk berdampingan di pinggir pantai, beralasakan pasir pantai bibir selatan pulau Jawa itu. Sesaat tidak ada yang bicara. Kami berempat, ditambah kang Deden, hanya duduk di pasir, menikmati semilir angin yang berhembus. Ochep masih sibuk dengan gadgetnya saat Windu berkata, “Manteb banget suasananya.” Dan Ochep pun meninggalkan aktivitasnya, dan memandang jauh ke Laut Selatan “milik” Nyi Roro Kidul tersebut.

Laguna Pari5

“Yuk kita balik. Cari tempat buat buka (puasa).” Ucapan andry memecah keheningan kami kala itu. Seiring dengan mulai memudarnya sinar matahari di Laguna Pari, kami pun mulai meniti jalan berpasir meninggalkan pantai indah tersebut. “Gak bisa gue bayangin kalo libur panjang di sini.” Ujar Windu saat meniti kembali jalur pulang kami.

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s