Sawarna, Tanjung Layar

Bagian Terakhir dari empat tulisan.

Lupakan soal sunrise, itu yang ada di dalam benak saya saat bangun tidur pagi ini. Sinar matahari sudah nampak saat Andry menyibak tirai jendela. “Ayo guys, kita ke pantai.” Ujarnya dengan muka agak segar karena baru saja cuci muka. Ochep merespon dengan bangun, dan bergegas ke kamar mandi. Yah, ritual setiap orang yang baru bangun itu tak perlu dikomentari lagi. Windu, sepertinya masih asyik di “alam” seberang sana. “Beuh, nih orang kayaknya lagi nanjak di Cikidang nih!” ujar Ochep saat mengomentari “melodi” suara mendengkur Windu. Andry dan saya hanya tersenyum. Namun tak butuh waktu lama bagi pria bertubuh tambun itu untuk keluar dari alam mimpinya, dan akhirnya kembali ke dunia nyata.

Pantai Putih1

Berempat, kami mulai menelusuri jalan setapak menuju pantai dengan berjalan kaki. Sepanjang perjalanan, tampak penginapan di kiri dan kanan. Para wisatawan pun tampak bersiap-siap melakukan aktivitasnya. Ada yang asyik ngobrol di teras, ada yang sibuk berbenah dan juga tampak beberapa wisatawan sepertinya bersiap untuk berburu foto. Bisa dilihat dari perlengkapan fotografinya yang lumayan lengkap. Memasuki kawasan pantai, kami disambut pemandangan yang menyegarkan. Laut lepas di depan, hutan dan jalan setapak di kiri dan kanan. Udara masih segar, sinar matahari belum terlalu terik. Dengan santai, kami mulai mendekati pantai pasir putih.

Pantai Putih2

Pantai Putih3Pantai ini memang salah satu obyek utamanya. Sesuai dengan penuturan seorang penduduk, pantai ini mempunya lokasi khusus untuk memotret matahari terbenam atau sunset. Angin pagi berhembus melewati rambut saya, saat beberapa kapal nelayan tampak dari kejauhan hendak merapat ke pantai. Yah, di sebelah timur, agak jauh dari tempat kami, terdapat semacam pangkalan perahu nelayan. Warung-warung masih banyak yang tutup. Pantai masih sepi. Dan seperti kami, tampak beberapa wisatawan sudah mulai menyusuri pantai. Bentuk pantai ini, nyaris menyerupai pantai kuta di Bali. Bibir pantainya bisa ditelusuri tanpa takut terkena karang. Namun hati-hati dengan ombaknya. Inilah alasan banyak turis mancanegara mengunjungi Pantai Sawarna. “Gila! Ombaknya tinggi coy!” ujar Windu saat melihat segulungan ombak mendekati pantai. Makin lama, makin tinggi, dan kemudian pecah sesaat sebelum memasuki pantai. Dan air laut pun menghampiri kami. Membasahi kaki, memberikan sensasi tersendiri. “Udah resmi kita ke Sawarna nih. Kaki kita udah disalam sama laut selatan.” Ujar Ochep agak serius.

TanjungLayar2“Kalau mau ke Tanjung Layar, jalan agak ke barat sana.” Ujar seorang penduduk saat kami bertanya dimana Tanjung Layar. Jadilah kami berjalan kaki, di pantai, di pagi hari yang tenang, ditemani deburan ombak menuju Tanjung Layar. Oh ya, lumayan jauh juga jarak berjalan kaki ke Tanjung Layar. Yah sekitar 15 menit. Tapi tidak usah khawatir. Tanda ke Tanjung Layar cukup jelas. Dan apa yang kurang menyenangkan ketika berjalan menyusuri jalan setapak, ditemani angin pesisir dan deburan ombak?

“Itu gimana ceritanya yah ada tebing di situ?” tanya Windu ketika kami tiba di pantai Tanjung Layar.

“Wah kalo itu mah panjang ceritanya. Lu mau gue ceritain atau nyari sendiri?” canda Ochep. Windu hanya menjawab dengan gelengan kepala.

“Katanya sih, karena dua batu yang menjulang tinggi itu seperti layar, makanya disebut pantai Tanjung Layar.” Jawab Andry sembari mengambil gambar dengan kamera saku.

“Masak sih?” Tanya Windu sembari sibuk bermain dengan air laut. Andry tidak menjawab, dia berjongkok, mengambil beberapa batu karang kecil, dan langsung melemparnya kepada Windu.

Pantai Tanjung Layar memang berbeda dengan kebanyakan pantai yang saya kunjungi, terutama di pesisir selatan. Pasalnya, lepas dari bibir pantai, kira-kira 500 meter, terdapat tebing karang menjulang tinggi. Jumlahnya ada dua, dimana salah satunya lebih tinggi dari lainnya. Nah, di belakang dua tebing tersebut, ada pula dinding karang yang membujur membelakangi. Dinding karang ini berjajar ke samping. Panjangnya kira-kira 1-2 kilometer, membentuk semacam barikade ombak.

TanjungLayar3Ombak di sini memang istimewa. Tentu ini jadi alasan tersendiri mengapa banyak turis mancanegara gemar melakukan selancar alias surfing. Dari kejauhan, suara deburan ombak bisa terdengar dengan dahsyatnya. Lalu ombak mulai menggulung, menuju ke pantai, dan bisa mencapai ketinggian 3 hingga 4 meter atau mungkin lebih. Paling tidak itu menurut pandangan mata saya. Nah yang menarik, jika di pantai pasir putihnya si ombak bakal bisa mencapai pantai dengan mudah, maka di Tanjung Layar, sebelum mencapai pantai, ombak harus menghadapi dinding karang diserta dua tebing Tanjung Layar tersebut. Momen pecahnya ombak saat melawan batu karang itulah yang menjadi atraksi tersendiri.

Uniknya, menjelang siang, mungkin karena air surut, ombak perlahan-lahan  tidak lagi mencapai pantai. Nah, air yang surut mulai menampakkan permukaan jelang pantai yang ternyata kebanyakan batu karang. Namun, justru disinlah yang menarik. Dengan begitu, para wisatawan cukup aman untuk mendekati tebing Tanjung Layar tersebut dengan menyisiri jalan berbatu karang yang tadinya dihuni oleh air laut pantai selatan.

TanjungLayar4

Ketika wisatawan mulai ramai, kami memutuskan untuk meneduh dari teriknya sinar matahari. Andry tidur di bangku yang dilapisi kain di warung. Windu asyik berjalan-jalan sendirian. Saya dan Ochep mengobrol dengan sedikit mengantuk. “Anginnya enak banget yah. Sejuk. Jadi gak pengen pulang nih gue. Suasananya rileks banget.” Ujar bapak satu anak ini. Tapi kami sadar kalau hari ini juga harus pulang ke rumah masing-masing. Lepas pukul 14.00, kami pun bersiap-siap meninggalkan Sawarna. Setelah melintas kembali jembatan goyang, ada asa ingin segera kembali ke Sawarna. 6 jam kemudian, setelah tiba di rumah, sembari berbaring, saya sudah terngiang kembali pantai Sawarna. Ah, Sawarna selalu mengundang asa.(hnr)

8 responses to “Sawarna, Tanjung Layar

  1. Kak.. maaf saya mau tanya. Budget untuk ke sawarna kira2 brp ya kak? Setelah saya liat blog kaka saya jd tertarik kesana..makasih kak

    • untuk penginapan kisarannya dari 70rb/orang/malam sampai ratusan ribu. Untuk kebutuhan makanan, banyak warung dengan harga yang terjangkau. Dan sudah ada 2 minimarket sebelum jembatan penyeberangannya. Yah kalo untuk menginap semalam, per orang persiapkan saja 100-150ribu diluar ongkos/bensin.

  2. MAMPIR GAN/SIS KE PANTAI SANTOLO SAYANGHEULANG PAMEUNGPEUK GARUT..PENGINAPAN KARANGLAUT…VIEW LANGSUNG PANTAI HP 082129705000..KANG DANI TEA…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s