Tour de Garut, Kawah Kamojang

Bagian ke empat, selesai
bagian 1
bagian 2
bagian 3

Oleh Henry Parasian
foto tambahan: totogenic & anto cira-cira

11.05 “Windu mana nih?” tanya Anto saat kami sudah tiba kembali di kota Garut. Semua anggota rombongan sudah ada, hanya Windu yang belum terlihat batang hidungnya. Sempat didiskusikan apakah harus mengirim Puji untuk mencari tahu apa yang terjadi. Namun kami urungkan niat tersebut mengingat padatnya lalu lintas yang baru saja kami lewati. 20 menit setelah menanti, terlihat Windu di belakang rombongan supporter Persib yang tengah konvoi. Ketika berhenti, saya memerhatikan kaca spion kanannya yang pecah.

“Tadi gue Jatuh gue pas di belakang sana,” ujarnya tanpa perlu ditanya.

“Lo gak ada luka?” tanya saya.

“Gak. Lanjut deh. Nanti aja gue ceritain,” jawabnya.

Perjalanan menuju Kawah Kamojang pun dilanjutkan. Walaupun sempat berputar sejenak untuk bisa keluar dari kota Garut, namun akhirnya kami bisa menemui jalan Samarang, untuk bisa tiba lebih cepat ke Kawah Kamojang.

Dari Garut-Samarang hingga perbukitan menjelang Kawah Kamojang, tidak ada hambatan berarti. Jalan yang kami lalui sepertinya jalan kelas II, dimana lebarnya hanya pas untuk dua mobil niaga berpapasan. Setelah belok ke arah Kampung Sampireun, saya melihat awan hitam sudah menggelantung jauh di depan. Dalam ingatan saya, kawah Kamojang ini terletak di Gunung Guntur. Melihat ada dataran tinggi di depan, saya cukup yakin jaraknya tidak jauh lagi. Kembali, tanjakan curam membuat rombongan kami bercerai berai. Yang mampu ngacir, maju di depan. Sementara, saya dan andjoe serta Koh biji harus puas “menyatu” alias menggunakan gigi satu dengan santainya. Ketika tengah berkendara di jalan yang menanjak, gerimis mulai turun. Kami bertiga berhenti.

13.05 “Kok lo gak pake jas hujan?” tanya saya ke Koh Biji yang menepi di depan saya. “Kata si Anjoe dah deket kok. Tanggung ah, baru gerimis doang”, jawab Koh Biji yakin.

“Yo wis, lanjut lah,” ujar saya sembari melanjutkan berkendara. Jadilah kami bertiga berkendara lebih dahulu ketimbang teman-teman yang masih sibuk mengenakan jas hujan. Belakangan kami bakal menyesal dengan keputusan tersebut.

Tak lama kemudian, saya melihat papan penunjuk jalan ke Kawah Kamojang. Saya pun semakin bersemangat. Apalagi begitu tiba di dekat pintu masuk Gedung pengelola kawasan Potensi Geotheral milik Pertamina. Namun di saat yang bersamaan, hujan semakin lebat. Saat menyusuri jalan raya yang di sampingnya terdapat pipa-pipa berukuran raksasa, saya mulai menyesal tidak menggunakan jas hujan. Akhirnya, karena mulai basah kuyup, kami bertiga berhenti.

welcome-to-kamojang“Ah biji, mana? Katanya udah deket.” Ujar Koh Biji bersungut-sungut saat kami bertiga berteduh di bawah pipa Geothermal yang melintas di atas jalan raya. Kemarahannya diarahkan ke Andjoe, yang membalas dengan senyuman. Saya pun hanya bisa tertawa. Sebenarnya pakaian sudah terlanjur basah, percuma juga sih menggunakan jas hujan. Tetapi jas hujan tetap saya kenakan, supaya suhu tubuh tidak terlalu ngedrop.

Di bawah guyuran hujan deras, kami bertiga melanjutkan perjalanan dengan hati-hati. Visibility cukup terbatas karena derasnya air hujan yang turun. Rasa dingin mulai merambah tulang, dan angin kawah Kamojang seakan menyambut kedatangan kami. Saat itulah saya melihat ada danau kecil di sisi kiri jalan, mengeluarkan asap yang membumbung tinggi. Antara takjub dan ngeri-ngeri sedap melihat asap keluar dari danau kecil itu. Tak lama setelah danau kecil itu, kami tiba di gerbang masuk Kawah Kamojang dan regroup dengan sisa anggota rombongan.

Karena hujan semakin deras, kami berteduh di sebuah warung makan. Banyak juga pengunjung yang berteduh di warung-warung. Namun, tak sedikit yang berjalan ke arah kawah, menggunakan payung atau jas hujan. “Kita jalan aja yuk, pake jas hujan?” tanya Puji.”Tunggu aja lah. Toh masih siang. Daripada nanti malah ngedrop lu?” jawab saya. Garut 2016_Day2_07

“Bu, indomie dong. Pakai telor yah,” ujar Toto memesan makanan kepada si empunya warung. Dan tanpa perlu komando, satu per satu mulai memesan mie instan. Entah berapa banyak kacang, kerupuk dan bakwan yang jadi korban kelaparan kami saat itu.

Nah, yang menarik adalah bahwa warung-warung di kawah kamojang tidak dialiri listrik. Aneh tapi nyata, tetapi memang demikian adanya. Itu sebabnya kami menerangi diri mengandalkan powerbank yang memilik lampu LED.

“Wuih, mulut gue berasap coy!” ujar Toto berkelakar, yang disambut dengan tawa renyah dari teman-teman. Wajar, karena berdasarkan aplikasi di ponsel (yang mungkin tidak presisi), suhu di sekitar hanya 20°C.

Fenomena “asap” yang muncul saat kita bernapas di lokasi dengan udara yang dingin adalah normal. Sederhananya, terjadi kondensasi antara kandungan air dalam hembusan napas kita dengan suhu dingin yang ada di luar. Maka, keluarlah “asap” sebagai produk kondensasi tersebut.

Saat browsing dengan sinyal yang pas-pasan, saya membaca sejarah tentang kawah Kamojang. Ternyata, yang menemukan potensi geothermal (panas bumi) di sini adalah orang Belanda. Mereka mulai mengeksplorasi potensi panas bumi di kawah kamojang sejak 1926, jauh sebelum kemerdekaan Indonesia. Setelah itu, pada tahun 1983 Presiden Soeharto meresmikan area ini menjadi pengelolaan panas bumi dengan teknologi modern. Saat ini, pengelolaannya dipegang oleh PT. Indonesia Power, anak perusahaan BUMN PT. PLN. Sementara, konsesi keseluruhan lahan dipegang oleh PT. Pertamina Geothermal Energy, anak perusahaan PT. Pertamina, yang juga BUMN. Oh ya, Indonesia merupakan negara produsen Geothermal ketiga terbesar di dunia setelah Filipina dan Amerika Serikat. Kapasitas listrik yang bisa dihasilkan dari empat lapangan uap yang ada di Kamojang adalah 140 MW (Mega Watt). Dan…

 Garut 2016_Day2_09

“Dah reda nih, yuk ah kita kemon,” ujar Puji membuyarkan konsentrasi saya yang tengah membaca sejarah kawah Kamojang. Begitu saya lihat ke luar, hujan memang sudah reda, menyisakan kabut tipis. Disambut udara dingin dan semilir angin, kami mulai berjalan menuju beberapa kawah yang menjadi obyek wisata.Garut 2016_Day2_08

Kawah pertama yang kami datangi, disebut kawah Kereta Api. Jika disebut kawah, sebenarnya agak mengernyitkan dahi saya, karena luasnya hanya sekitar 5×5 meter.  Padahal di benak saya, kawah itu luas sekali. Tapi mungkin ada alasan lain kenapa disebut kawah.

oh ya, kawah ini mengeluarkan asap terus menerus, serta mengeluarkan suara seperti siulan lokomotif. Mungkin itu sebabnya disebut kawah lokomotif. Anyway, asap yang keluar tersebut merupakan produk dari panas bumi yang akan terus keluar selama panas bumi masih ada di area itu.

Untuk suara, saya sempat menguji besaran desibel suara tersebut, kisarannya 90-100an db. Untuk berbicara dengan level suara normal, dijamin tidak akan terdengar. Harus sediki teriak untuk bisa berkomunikasi. Dan tidak disarankan untuk berdiri terlalu dekat, bahaya untuk pendengaran.

 Garut 2016_Day2_10

Kawah yang kedua adalah kawah Hujan. Entah kenapa dinamakan demikian. Tapi dari papan yang ada di pinggir kawah, mungkin bisa dibilang karena di kawah ini kerap terjadi hujan(?). Berbeda dengan kawah Kereta Api, manifestasi panas bumi di kawah ini berbentuk air panas yang suhunya bisa mencapai 95-98° Celcius. Dan ketika kami tiba di sana, sudah banyak pengunjung yang asyik berfoto. Akhirnya diputuskan untuk tidak turun ke kawah karena terlalu crowded. Akhirnya kami hanya menikmati kawah tersebut di bibirnya saja. Di area ini kita bisa juga menyaksikan adanya uap panas berbentuk asap putih keluar dari sela-sela batu dan tanah.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

“Tuuuttt!” sebuah suara persis seperti peluit kereta uap, terdengar di kejauhan. Saya dan teman-teman pun bergegas kembali ke arah kawah kereta api itu. ndilalah, ternyata ada seorang kakek, yang menggunakan bambu panjang dan besar, lalu mengarahkan bambu tersebut ke lubang tempat uap panas menyembur. Dan terdengarlah bunyi seperti peluit kereta api. “Walah, gue kirain bunyinya alami. Ternyata, si kakek yang maenan gas alam,” ujar Koh Biji disambut tawa renyah oleh yang lain.

16.00 Usai menikmati keajaiban alam ini, kami pun memutuskan untuk kembali ke kota Garut. Tak lupa kami mencandai Andjoe untuk berkenalan dengan si neng geulis penjaga warung tempat kami menitip barang. Andjoe tipikal baiker saat ini. Garang di jalan, melempem saat berhadapan dengan perempuan. 🙂

Saat meninggalkan pintu gerbang kawasan kawah, tiba-tiba saja rombongan berhenti. Aksi mengambil foto pun dimulai. Semua motor kami, kecuali Windu yang sudah terlebih dahulu pergi, diparkir di depan danau yang mengeluarkan asap putih. “Yak, kita sudah sah ke sini!” ujar Puji seusai mengambil gambar, sembari tersenyum.

Garut 2016_Day2_11

OLYMPUS DIGITAL CAMERASaat keluar dari area Geothermal, Saya, Koh biji dan Windu kembali berhenti di area Pipa gas bumi Kamojang. Sebenarnya, bukan untuk memotret gambar, melainkan untuk mengenakan jas hujan. Pasalnya, hujan deras kembali turun. Duh, tubuh yang basah oleh kelembaban dan hujan, kini harus dibungkus dengan jas hujan yang juga sudah basah. Brrr…..

Sebelum lanjut berkendara, tak lupa kami bertiga mengabadikan diri sejenak ditemani pipa-pipa raksasa geo thermal.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

16.45 Rombongan melanjutkan perjalanan ke arah Garut. Kami bertiga yang berada di urutan belakang, berkendara agak santai. Pasalnya, kabut yang lumayan tebal menyebabkan low visibility, hingga kami harus membatasi manuver dan kecepatan.  Hujan rintik-rintik terus menemani kami ketika menuruni kaki gunung Guntur. Memasuki kota Garut menjelang maghrib, tubuh kami sudah basah kuyup. Saat itu saya memutuskan untuk mengurungkan niat ke Cipanas. Lebih baik beristirahat di hotel, mengembalikan energi karena besok masih harus menempuh perjalanan balik ke Bekasi.

19.00 Rencana ke Cipanas, untuk berendam di kolam air panas terpaksa digagalkan. Hujan terus mengguyur kota Garut. Apalagi sebagian besar dari kami masih malas beranjak dari kasur ataupun kursi, sejak tiba basah kuyup dari Kawah Kamojang. Saya sempat mengecek kondisi lalulintas melalui Google Maps, dan kaget saat melihat warna merah (lalulintas padat/macet) di seputaran Cipanas. Saya pun memerlihatkan hasil temuan itu kepada Puji dan Koh Biji. Kedua teman saya ini pun akhirnya mengamini untuk tidak pergi ke Cipanas. Malam ini, kami beristirahat total, mengisi waktu dengan repacking, memesan makan malam, leyeh-leyeh, sembari menyiapkan tubuh untuk bangun lebih segar besok pagi.

SENIN (8/2)
09.00
lepas dari Garut, melewati Cipanas, kami mendapati kepadatan para pengunjung yang tak terkira hingga menyebabkan kemacetan lalu lintas. Untung saja kami tidak jadi ke sini tadi malam, pikir saya. Selanjutnya rombongan meneruskan perjalanan dengan rute Cijapati-Cicalengka-Cileunyi-Soekarno Hatta-Cimahi-Padalarang-Purwakarta.

15.00 Di kota Purwakarta kami istirahat sejenak mengisi perut, lalu lanjut menuju Bekasi sebagai breaking point (rombongan bubar). Lepas dari Purwakarta hingga beristirahat di Cikarang, kami diguyur hujan tiada henti. Bahkan ketika meneruskan perjalanan Cibitung-Tambun dan tiba di Bekasi, hujan masih saja mengguyur. Beberapa kali kami harus melalui banjir yang lumayan tinggi.

20.15 Saya adalah orang pertama yang tiba di rumah, berpisah dengan rombongan yang masih berjibaku untuk tiba di rumah masing-masing. Tirta masih harus ke Tangerang, Toto ke Tebet, Anto ke Depok, Andjoe ke Setiabudi, Puji ke Jatinegara dan Windu ke Bintara. Sembari menunggu kabar dari mereka, saya mengecek data perjalanan kami kali ini.

Total perjalanan yang kami lalui antara 600-700 kilometer, total pergerakan saat pergi nyaris 20 jam, sementara saat pulang 12-14 jam. Lelah? Pastinya. Mata ini hendak menutup, tetapi pikiran masih terkesima dengan pengalaman 3 hari terakhir.

Saya pun melihat kembali foto-foto perjalanan di ponsel. Ah, alam priangan, memang selalu memohon untuk dicumbui. Dan fenomena travel blues mulai melanda. Belum genap 24 jam berlalu, saya sudah merindukan momen-momen yang baru saja dilalui.

23.00, sang kantuk mulai menghampiri ketika saya mendapat kabar bahwa Tirta, lady biker yang ikut dengan kami, sudah tiba di rumahnya di Tangerang. Perlahan-lahan, saya mulai rileks dan terbawa ke alam mimpi diiringi lagu Space Oddity yang dinyanyikan oleh David Bowie dan Kristen Wiig…

This is Major Tom to Ground Control,
I’m stepping down through the door
And I’m floating in the most peculiar way
And the stars look very different today
For here am I sitting in my tin can
Far above the world
Planet earth is blue
And there’s nothing I can do…
(hnr)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: