Secuil Jajanan Cirebon

Cirebon Tahu Gejrot“Lu gak bakal nyesel gue ajak ke Cirebon dah!” demikian ujar Irwan saat kami mulai memasuki kota Cirebon, Sabtu (11/11) pagi hari. Memasuki kota Udang ini, suasananya tidak ada yang istimewa, kondisi lalu lintasnya pun sama seperti kota-kota satelit pinggiran Jakarta yang cenderung ramai. Irwan tidak bercanda ketika mengatakan saya akan menikmati kunjungan ke Cirebon. Dalam waktu singkat, kami sudah tiba di salah satu warung nasi jamblang terkenal di Cirebon. Warung Nasi Jamblang Mang Dul namanya. Terletak di jalan Dr. Cipto Mangunkusumo. Tepatnya di  depan Grage Mall. Nasi jamblang adalah salah satu jajanan khas Cirebon. Nasi putih harum tersebut, ukurannya sebesar kepalan tangan orang dewasa. Dibungkus dengan daun jati, yang berwarna hijau tua, nasi ini mempunyai harum yang khas.

“Dua atau tiga mas?” tanya si mbok pelayan nasi Jamblang. Si mbok, duduk di belakang serangkaian baskom berisi makanan tambahan. Secepat kilat, insting saya mengatakan “Dua”. Maka keluarlah Baca lebih lanjut

Iklan

Empat Jam Di Torry Coffee Kalimalang

Setelah tertunda beberapa kali, akhirnya niat saya untuk mengunjungi salah satu kedai kopi di bilangan Kalimalang, Jakarta Timur, akhirnya bisa terlaksana tadi malam (15/8). Ditemani oleh No-Q seorang kawan, yang juga bikers  pecinta kuliner, meluncurlah kami berdua mengunjungi tempat yang selalu menjadi bahan pembicaraan.

Jika anda dari arah halim, maka Torry Coffee berlokasi di sebelah kiri jalan, sekitar 500 meter dari perempatan Pangkalan Jati. Posisinya diapit oleh dealer motor Honda dan restoran Hoka-hoka Bento. Tempatnya dua lantai, didominasi oleh warna hitam, merah dan coklat.

20.05
“Malu bertanya, bisa salah pesan” itulah prinsip seorang pejalan perihal makanan dan minuman. 😀 Oleh sebab itu, Baca lebih lanjut

Sarapan di Cipanas, Makan Siang di Cikampek. Perjalanan Menuntaskan Rasa Penasaran. (bag. 1)

Live curious” is about exploration, pioneering and questioning, which captures National Geographic’s shared spirit. No matter what country you live in or language you speak, this message to “Live Curious” hits close to home. Everything deserves a why.”

Mungkin, kalimat di ataslah  yang menyebabkan saya, Alex dan Shandi untuk melakukan perjalanan ini. Dimana ketika sang surya masih terlelap, dan pagi pun belum menampakkan wajahnya. Ketika banyak orang masih bersembunyi di balik selimut, dan asyik hanyut di dalam mimpi, kami bertiga justru sebaliknya. Dengan mengendarai motor, kami memutuskan untuk menjelajahi sebuah rute yang mengundang rasa penasaran; Padalarang – Cikampek via Purwakarta. Alasannya? Kami belum pernah melaluinya. Sesederhana itu. Mengapa juga kami berangkat di dini hari? Lagi-lagi karena alasan sederhana. Kami penasaran rasanya berkendara ketika orang masih terlelap tidur. 😀

Bertemu pukul 05.00 di SPBU TMII (Taman Mini Indonesia Indah), kami bertiga tiba dengan motor masing-masing. Shandi mengendarai Byson dengan Sidebox-nya. Sementara saya dan Alex masih setia dengan Karisma kami. “Kita mengawal kebo hari ini”, seloroh Alex seraya mengunyah bakwan goreng yang saya bawa. Shandi hanya tersenyum saja mendengar itu. Rencananya, perjalanan kami akan menempuh rute TMII-Bambu Apus-Jl. Raya Bogor-Ciawi-Puncak-Cipanas. Baca lebih lanjut

Sarapan di Cipanas, Makan Siang di Cikampek. Perjalanan Menuntaskan Rasa Penasaran. (bag. 2)

“Lu tahu gak jalan tembus dari sini ke Cipanas?” tanya Alex kepada saya sesaat sebelum melanjutkan perjalanan. Saya hanya mengangguk. Sementar Shandi menjawab, “Pasti tembus lah. Masak kita gak tembus. Toh kalo nyasar bersama-sama, gak sendirian. Jadi, malunya gotong royong!” seloroh pemuda asal pekalongan ini. Kontan kami bertiga tertawa renyah mendengarnya. Dan benar saja, 15 menit kemudian, berangkat dari bubur pak Maman, kami tiba di jalan raya Cipanas. Tidak ada tanya sana-sini. Hanya bermodalkan membaca papan penunjuk jalan, dan sedikit semangat menduga-duga, ketemu juga.

Perjalanan dari Cipanas menuju Padalarang via Cianjur mungkin menjadi sedikit membosankan dan membuat ngantuk. Sebab, jalurnya cenderung lurus. Walaupun kami mendapat sedikit “hiburan” ketika memasuki wilayah Cipatat dan Citatah, dimana jalur yang menanjak dan berlika-liku meminta untuk dicumbui. Toh, tetap saja truk besar yang berjalan pelan, menjadi hal yang mesti dihadapi. Alhasil, tingkat kewaspadaan semakin tinggi. Saat berada di jalur ini, saya merasa ngeri campur takjub kepada para pengendara motor. Bagaimana tidak, dengan santai mereka mendahului mobil/truk saat di tikungan! Padahal dengan begitu, kita tidak bisa melihat apakah ada kendaraan setelah tikungan atau tidak. Berani atau nekat? Tak tahulah. Yang pasti, kami bertiga melepas formasi dan memilih sendiri posisi yang nyaman. Kadang Alex di depan, kadang juga saya dan Shandi di depannya. Yang penting, posisi kami harus bisa terlihat oleh pengendara lain. Maklum, pengendara motor acapkali tidak disadari keberadaanya oleh pengemudi mobil/truk. Baca lebih lanjut

Bandung: Antara Otak-otak dan Kopi Ireng.

Ketika seorang kawan mengajak untuk mengunjungi kota Bandung, awalnya saya sangat segan mengiyakan ajakan tersebut. Selain waktu itu bertepatan dengan long weekend akhir tahun, toh badan ini masih lelah karena baru saja bulak balik merayakan natal bersama keluarga besar. Tapi seketika juga saya ingat sebuah persinggahan yang saya temukan beberapa tahun lalu saat berkunjung ke Bandung. Keinginan untuk mengunjungi kembali tempat yang menyejukkan inilah yang akhirnya membuat saya menyetujui ajakan kawan saya.

Alhasil, Minggu pagi kami sudah berangkat menuju Bandung. Dan setelah menemui jalan yang mulus sepanjang Cipularang, mimpi buruk saya terwujud. Memasuki kota Bandung dari gerbang tol Pasteur, kami menghadapi kemacetan parah. Tidak tanggung-tanggung, untuk menempuh jarak dari jembatan Pasteur menuju Gasibu saja, memakan waktu satu setengah jam! Uedan! Padahal seumur-umur tinggal di jakarta, belum pernah memakan waktu lama menempuh jarak yang Cuma 1 kilometer itu. Baca lebih lanjut

Menahan Lapar, Demi Pepes Walahar

Foto: bodats & alex. Teks: bodats
(catatan: sebagian foto diambil menggunakan kamera dari hp. Mohon maklum jika agak blur, dan kurang tajam)
Membingungkan, tapi membuat penasaran. Itulah kesan yang saya dapat ketika mencari informasi tentang pepes H. Dirja di Walahar, Karawang. Pasalnya, setelah mencari info sana sini, baik via milis jalansutra, milis pecinta GPS maupun beberapa blog, tidak ada yang cukup akurat dalam hal pengarahan arah perjalanan ke lokasi tersebut. Terutama bagi pengendara sepeda motor. Rute yang diberitahu terlalu umum. Keluar pintu tol karawang timur, lalu ambil arah ke jalan Kosambi, kemudian belok kanan.  Waduh, umum sekali. Tapi jika dilihat dari kepuasan para penikmat kuliner, rasa penasarannya makin menggebu-gebu. Penasaran ingin mencicipi pepes khas Walahar.

Karena tekad sudah bulat, dengan peta seadanya, akhirnya saya memutuskan untuk menjajal kenikmatan pepes tersebut hari Senin (8/12) lalu. Bersama Alex, seorang biker dan juga blogger kuliner, kami mengendarai motor untuk menuntaskan rasa penasaran tersebut. Sengaja dipilih hari Senin, karena jika hari libur (Selasa, merupakan tahun baru tanggalan Jawa Kuno), maka pengunjung ramai, dan terlalu padat. Kami berdua khawatir tidak bisa menikmati makanan tersebut. Dan sebagai “persiapan”, kami sengaja hanya sarapan gorengan tahu isi. 😀 Baca lebih lanjut

Menuju Bendungan Walahar

Bagi yang ingin menuju ke Bendungan Walahar, semoga informasi ini bisa berguna.

Menggunakan sepeda  motor atau mobil dari arah Jakarta/Bekasi, melewati jalan bukan tol:
1. Berkendara ke arah Karawang. Setelah itu, lepas dari pusat kota, lanjutkan ke arah Cikampek.
2. Setelah tiba di jalan raya Kosambi, perhatikan papan penunjuk jalan. Jika menemukan ke arah masuk Tol Karawang, carilah pintu tol yang kedua. Artinya, pintu tol karawang timur. Jika anda ragu, menepilah sejenak, untuk bertanya ke arah Walahar kepada penduduk setempat.
3. Setelah menemukan pertigaan yang mengarah ke pintu tol kedua, lanjut lurus. Sekitar 200 meter, ada jembatan, dari situ mulailah ambil posisi ke kanan. Nanti bertemu perempatan, di sebelah kanan, terdapat minimarket Indomaret. Belok ke kanan. Koordinat Perempatan ini adalah adalah S6°21’49.09” E107°21’40.03”. Jika anda memiliki GPS unit, silahkan masukkan kode ini.
4. Dari perempatan tersebut, setelah belok kanan, ikut terus jalan hingga menyeberangi jembatan di atas jalan tol. Di sebelah kiri, ada rest area.
5. Setelah menuruni jembatan, ambil arah ke kiri. Ada papan penunjuk arah yang jelas.
6. Mulai telusuri jalur sepanjang sungai, setelah itu, berbelok ke kanan, dan anda sudah tiba di pintu bendungan Walahar. Rumah makan H. Dirja tepat berada di seberang, di akhir mulut bendungan. Koordinat Bendungan di S6°23’05.68” E107°21’40.12”.

Mapgoogle

Menggunakan mobil dari arah Jakarta/Bekasi, melewati jalan tol:
1. Masuk ke jalur Jakarta-Cikampek. Keluar pinto tol Karawang Timur.
2. Lanjut ke arah ke jalan raya Kosambi/Cikampek.
3. Tiba di pertigaan, lanjut ke kanan,  arah Kosambi/Cikampek.
4. Sekitar 200 meter setelah berbelok, ada pertigaan lagi. Di sebelah kanan perempatan tersebut, terdapat minimarket Indomaret. Belok ke kanan. Koordinat perempatan tersebut adalah S6°21’49.09” E107°21’40.03”.
5. Dari perempatan tersebut, belok kanan, ikut terus jalan hingga menyeberangi jembatan di atas jalan tol. Di sebelah kiri, ada rest area.
6. Setelah menuruni jembatan, ambil arah ke kiri. Ada papan penunjuk arah yang jelas.
Mulai telusuri jalur sepanjang sungai, setelah itu, berbelok ke kanan, dan anda sudah tiba di pintu bendungan Walahar. Rumah makan H. Dirja tepat berada di seberang, di akhir mulut bendungan. Koordinat Bendungan di S6°23’05.68” E107°21’40.12”.  Bagi pengendara mobil, harus sabar mengantri jika ingin memasuki bendungan.
Semoga membantu. Happy Travelling! (hnr)