Kembali Mencumbui Alam Priangan (Bag. 2)

Bagian terakhir dari dua tulisan.

Minggu 7/2 – GONG XI FA CAI!
07.30
Semua anggota rombongan sudah bangun, dan bersiap untuk menikmati obyek wisata di seputaran Garut. Rencananya, hari ini kita akan ke Kampung Naga, Kawah Kamojang dan wisata air panas di Cipanas. Garut 2016_Day2_01

08.30 Kami berangkat menuju Kampung Naga. Dari aplikasi GoogleMaps, diperkirakan jarak tempuh 24 kilometer, dengan estimasi waktu tempuh 30-40 menit. Kampung Naga dipilih sebagai tempat pertama, karena dipandang lebih nikmat dikunjungi pada pagi hari, dimana suasana di tempat tersebut belum terlalu ramai. Baca lebih lanjut

Iklan

Kembali Mencumbui Alam Priangan

Bagian pertama dari dua tulisan

Oleh Henry Parasian
foto tambahan: totogenic, Koh biji & Andjoe

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Dalam rangka….. ah gak lah, gak kayak begitu. Intinya, karena tanggal 5-8 Februari adalah long weekend, maka saya dan beberapa teman memutuskan untuk melakukan perjalanan ke luar kota. Kali ini tujuannya adalah obyek wisata di pesisir selatan Bandung hingga di sekitar kota Garut. Lagi, untuk kesekian kalinya, alam Priangan seakan tak ada habisnya untuk dijelajahi.

 Jumat (5/2).
23.15, Andy Joe, yang jadi RIC (Rider in Charge) memberikan briefing. “Kita menuju pantai Ranca Buaya. Jalur keberangkatannya adalah dari sini (Bekasi) melalui Karawang, sampai ke Purwakarta, lalu lanjut ke Padalarang. Nah dari sini hingga ke Padalarang, Windu yang di depan (pimpin rombongan). Setelah di Padalarang, gue yang akan di depan.” Demikian pengumuman singkat dari anggota KHCC yang juga penunggang Scorpio ini.

Dari total 12 orang yang berminat, hanya delapan orang yang tiba di pitstop. Sisanya karena berbagai macam alasan, terpaksa gagal untuk ikut serta. Disa Pasikom baru saja usai operasi usus buntu, Irwan Handoko tak bisa ikut karena istrinya ulang tahun, Ochep harus menunggui ibunya di rumah sakit sementara Azdi menjadi “supir” dadakan bagi ayahnya.

23.30, rombongan berangkat meninggalkan kota Bekasi yang masih dibanjiri kendaraan commuter dari arah Jakarta. Melewati Kalimalang, Tambun, Cibitung, Cikarang hingga keluar dari Karawang Ring Road, kondisi lalu lintas mulai sepi. Namun rombongan sempat terpecah ketika hendak menuju Purwakarta.

Baca lebih lanjut

Dieng; Jauh, Tinggi, Dingin Tetapi Indah (2)

Bagian kedua (selesai).

CANDI ARJUNA
Usai melahap tempe kemul dan jamur goreng di warung dekat pintu masuk kawah, kami pun melanjutkan kunjungan ke komplek candi Arjuna. Sore itu, udara sejuk mulai masuk menelisik rompi dan lengan panjang yang saya kenakan.

Blog Dieng_Candi Arjuna

“Ini kenapa yah, Candi kok rata-rata berada di gunung?” tanya Ony, pekerja kontraktor yang waterproof alias tak bisa berenang itu. Saya menjawab, bahwa biasanya, mungkin, candi ini dibangun di pegunungan untuk ritual persembahan kepada dewa (Yah ini juga kalau tidak salah). Namun Baca lebih lanjut

Dieng; Jauh, Tinggi, Dingin Tetapi Indah (1)

Bagian pertama dari dua tulisan.

Blog Dieng_1“Ke kawasan gunung yuk? usul saya dalam kesempatan ngupi bersama beberapa teman, sebelum hari raya lebaran Juli lalu. Ide saya pun disambut baik. Tanpa banyak perdebatan, dataran tinggi Dieng menjadi tujuan perjalanan kali ini. Dan libur panjang (long weekend) hari raya kemerdekaan (15-17/8) pun disepakati sebagai tanggal eksekusi.

Jumat (14/8) malam, kami berkumpul di SPBU Pertamina, dekat pintu tol Bekasi Barat. Semuanya peserta perjalanan, baru saja pulang dari bekerja atau beraktivitas. Alhasil, rencana berangkat pukul 22.00 pun molor hingga pukul 23.00 karena banyak yang terhambat lalu lintas Jakarta dan juga keperluan lainnya. Secara keseluruhan, ada 10 motor; 5 motor bebek, 1 skutik dan sisanya motor sport. Briefing singkat dilakukan untuk menentukan rute perjalanan, group riding hingga checkpoint atau titik kumpul selama perjalanan. Diputuskan menggunakan rute pantura: Bekasi-Karawang-Cikampek-Pamanukan-Jatibarang-Palimanan-Cirebon-Brebes-Tegal-Pemalang-Pekalongan-Kajen-Linggo Asri-Batur-Dieng. Dan selama perjalanan dibuat 3 checkpoint yaitu di Pamanukan, Cirebon dan Pekalongan.

Pukul 23.00, tim mulai menuju checkpoint #1 yaitu Pamanukan. Baca lebih lanjut

Tour de Cirata via Ciburahol

Puncak Pass“Kayaknya boleh nih kita coba nih jalur. Daripada kita muter jauh ke Padalarang?” ujar Ochep, seorang penggemar sepeda gunung, saat kami berdiskusi tentang rute perjalanan akhir pekan kali ini. Rencana awal hendak “iseng” mencoba jalur dari Puncak Pass ke Padalarang hingga Lembang, Jawa Barat. Tapi rencana tersebut diamputasi sejak dini mengingat waktu tempuh yang terlalu panjang. Kami putuskan untuk menempuh jalan bernama Ciburahol, di daerah Rajamandala, Cianjur, Jawa Barat, untuk menuju Waduk Cirata. Oleh sebab itu, touring ini kami beri nama “Tour de Cirata via Ciburahol”

Jadilah, Sabtu (24/1) pukul 05.00 dini hari kemarin, saya, ochep dan Irwan beriringan berkendara di akhir pekan. Rute kali ini sedikit berbeda. Tujuan awal adalah bubur ayam pak Maman di daerah kota Bunga, Cipanas. Namun kami tidak mengambil jalur yang biasanya kami tempuh, melalui Jalan raya Bogor dan sekitarnya. Adalah Ochep, yang sudah nyaris setahun tidak touring, mengajak kami melewati rute Bekasi-Cileungsi-Citereup-Sentul hingga tembus Gadog.

Special Stage 1 (biar kayak rally J), Baca lebih lanjut

Sawarna, Tanjung Layar

Bagian Terakhir dari empat tulisan.

Lupakan soal sunrise, itu yang ada di dalam benak saya saat bangun tidur pagi ini. Sinar matahari sudah nampak saat Andry menyibak tirai jendela. “Ayo guys, kita ke pantai.” Ujarnya dengan muka agak segar karena baru saja cuci muka. Ochep merespon dengan bangun, dan bergegas ke kamar mandi. Yah, ritual setiap orang yang baru bangun itu tak perlu dikomentari lagi. Windu, sepertinya masih asyik di “alam” seberang sana. “Beuh, nih orang kayaknya lagi nanjak di Cikidang nih!” ujar Ochep saat mengomentari “melodi” suara mendengkur Windu. Andry dan saya hanya tersenyum. Namun tak butuh waktu lama bagi pria bertubuh tambun itu untuk keluar dari alam mimpinya, dan akhirnya kembali ke dunia nyata.

Pantai Putih1

Berempat, kami mulai menelusuri jalan setapak menuju pantai dengan berjalan kaki. Baca lebih lanjut

Sawarna, Pantai Laguna Pari

Laguna Pari1

Bagian ketiga dari empat tulisan.

Mendekati pukul 4 sore, kami berempat, ditemani oleh Kang Deden yang menjadi pemandu kami mulai berjalan ke Laguna Pari menyusuri jalan setapak. Kondisi jalur perjalanan dari gua Lalay ke Laguna Pari memang menguras tenaga. Maklum saja, jalannya sedikit menanjak bukit. Andry & Windu yang tengah menikmati puasanya, cuma bisa tersenyum saat saya menanyakan kondisi mereka berdua. Maklum, di tengah cuaca yang lumayan hangat, khas daerah tropis, aktivitas ini lumayan mengundang dahaga. Tanjakan awalnya cukup terjal. Saking terjalnya, Andry & Windu sempat beristirahat sejenak, sebelum kembali berjalan.

“Ayo semangat, cuma di sini doang tanjakannya. Nanti di depan sana, pemandangannya bagus. Gak ada lagi tanjakan. Baca lebih lanjut