Kembali Mencumbui Alam Priangan

Bagian pertama dari dua tulisan

Oleh Henry Parasian
foto tambahan: totogenic, Koh biji & Andjoe

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Dalam rangka….. ah gak lah, gak kayak begitu. Intinya, karena tanggal 5-8 Februari adalah long weekend, maka saya dan beberapa teman memutuskan untuk melakukan perjalanan ke luar kota. Kali ini tujuannya adalah obyek wisata di pesisir selatan Bandung hingga di sekitar kota Garut. Lagi, untuk kesekian kalinya, alam Priangan seakan tak ada habisnya untuk dijelajahi.

 Jumat (5/2).
23.15, Andy Joe, yang jadi RIC (Rider in Charge) memberikan briefing. “Kita menuju pantai Ranca Buaya. Jalur keberangkatannya adalah dari sini (Bekasi) melalui Karawang, sampai ke Purwakarta, lalu lanjut ke Padalarang. Nah dari sini hingga ke Padalarang, Windu yang di depan (pimpin rombongan). Setelah di Padalarang, gue yang akan di depan.” Demikian pengumuman singkat dari anggota KHCC yang juga penunggang Scorpio ini.

Dari total 12 orang yang berminat, hanya delapan orang yang tiba di pitstop. Sisanya karena berbagai macam alasan, terpaksa gagal untuk ikut serta. Disa Pasikom baru saja usai operasi usus buntu, Irwan Handoko tak bisa ikut karena istrinya ulang tahun, Ochep harus menunggui ibunya di rumah sakit sementara Azdi menjadi “supir” dadakan bagi ayahnya.

23.30, rombongan berangkat meninggalkan kota Bekasi yang masih dibanjiri kendaraan commuter dari arah Jakarta. Melewati Kalimalang, Tambun, Cibitung, Cikarang hingga keluar dari Karawang Ring Road, kondisi lalu lintas mulai sepi. Namun rombongan sempat terpecah ketika hendak menuju Purwakarta.

Keluar dari Karawang Ring Road, saya dan No-Q (biasa dipanggil Koh Biji) berada di belakang. Sesuai briefing, harusnya rombongan belok kanan ke Jl. Industri, jalan alternatif menuju Purwakarta. Namun yang terjadi justru sebaliknya, Windu sepertinya missed tikungan ke arah jalan tersebut. Akhirnya saya dan Koh biji berhenti sejenak, dan berusaha mengontak Windu dan rombongan. Ternyata benar, mereka sudah ada di simpang Jomin. Saya dan Koh Biji pun bertemu kembali dengan rombogan, dan melanjutkan perjalanan.

Kota Purwakarta sudah terlelap saat kami berdelapan melintas, mengarah ke Cikalong untuk selanjutnya ke Padalarang. Jalan yang kami lalui dahulu digunakan oleh semua bus dan truk yang mengarah ke Bandung, Garut, Tasikmalaya serta wilayah selatan Jawa lainnya. Jalur ini masih terawat, dan aspalnya terbilang mulus, namun sayangnya penerangan jalannya masih minim.

Rentang 1998-1999, untuk uang saku kuliah, saya menjalankan bisnis pesanan perlengkapan pendaki gunung. Untuk itu saya sering bolak-balik Bekasi-Bandung menggunakan bis AKAP, dan melewati jalur ini. Tidak ada lagi rumah makan besar yang biasanya disinggahi oleh bus kota. Kini, hanya ada minimarket, pangkalan truk dan SPBU.

Back to the ride, perlahan saya menangkap adanya pengurangan kecepatan oleh Andjoe di urutan paling depan. Yup, tidak ada lagi penerangan jalan ketika kami meninggalkan Purwakarta. Alhasil saya harus maju ke depan rombongan dan menggunakan lampu tembak yang ada di blackbastard untuk menerangi jalan di depan. Rombongan pun kembali melaju.

Menjelang Padalarang, baru sadar bahwa fuel indicator sudah kelap-kelip alias bensin tiris alias sudah mau habis. Sialnya, SPBU yang sedari tadi cukup sering terlihat, justru kini tidak terlihat sama sekali. Mata saya pun mencari-cari, adakah pertamini yang masih buka. Sial, tidak ada juga. Ketika jantung mulai deg-degan, dari jauh saya melihat logo Pertamina. Dewi keberuntungan masih membonceng saya rupanya. Jadilah kami berhenti, dan mengisi ulang bahan bakar. Dari situ langsung melanjutkan perjalanan ke Batujajar.

 Sabtu (6/2)
03.25
“Berhenti gak nih? Foto-foto?” ujar Koh Biji saat kami melintas di dekat Stadion Sepakbola Jalak Harupat. Saya cuma bisa menggelengkan kepala melihat ulah bapak satu anak ini. Masak iya, jam tiga dini hari iseng motret di depan stadion kebanggan milik Persib Bandung?

Tanpa banyak hambatan, kami bergegas melalui jalur Batujajar, untuk selanjutnya menuju Situ Cileunca dan Pangalengan. Memasuki jalan raya Pangalengan menuju Situ Cileunca, rombongan dihadapkan pada “tiga dimensi” tantangan pengendara malam: penerangan minim, udara dingin dan kontur jalan yang naik/turun. Lagi-lagi Andjoe memelankan laju kendaraannya. Windu mencoba membantu dengan menyalakan lampu tembaknya. Tapi entah kenapa, sepertinya kurang maksimal. Saya pun kembali maju ke depan rombongan dan mulai memberikan penerangan tambahan. Dan rombongan kembali mengikuti saya dengan kecepatan yang cukup tinggi, antara 70-80 kpj. Saking gelapnya, terkadang walau sudah dibantu lampu tembak pun, saya terlambat membaca arah jalan. Beberapa kali mengalami sport jantung saat mendapat tikungan yang terlalu tajam dan sempit. Rasa kantuk yang tadinya sempat hinggap mulai hilang ditelan adrenalin. Dari spion terlihat hanya lampu penerangan kendaraan milik rombongan kami yang menerangi jalan.

04.45 Saat berkonsentrasi melibas jalan yang minim penerangan, mata saya menangkap papan nama bertuliskan “Situ Ciluenca” di sebelah kiri. Dan pergerakan kami pun mulai memelan, dan berhenti di depan warung.

Garut 2016_Day1_01Perkiraan Andjoe bahwa banyak warung yang masih buka, dan bisa kami manfaatkan untuk istirahat meleset jauh. Hanya satu warung yang buka, dan tidak menyediakan dipan atau tempat untuk berbaring. Walaupun demikian, akhirnya diputuskan untuk tetap beristirahat. Toto, Windu dan Andjoe menyantap mie instan. Koh Biji dan saya serta Anto memesan kopi.

Nah, saat lagi asyik menyeruput kopi, sayup-sayup terdengar suara lantunan musik pop era 80an. Ah masak, di tengah hutan begini, ada orang yang doyan musik jadoel? ujar saya dalam hati. ndilalah, ternyata Anto membawa speaker bluetooth di bagasi skutik miliknya. Sontak saja saya hanya bisa tertawa pelan. Dan jadilah pagi itu kami memulai hari tak seperti biasanya; diselimuti udara dingin khas pegunungan, dengan temperatur 14-16° C menikmati minuman hangat, mie instan dan lantunan lagu pop jadoel. what a day.

Garut 2016_Day1_02

“Dat, lanjut nyok. Gue yakin di bawah sana ada warung yang bisa kita pake untuk istirahat,” Ujar Andjoe. Rombongan pun melanjutkan perjalanan.

Garut 2016_Day1_03Selama perjalanan, pemandangan kawasan Pangalengan dan sekitarnya membius kami. Sudah bisa ditebak, semua anggota rombongan sibuk berhenti, memotret lalu berkendara kembali dan mengulangi hal yg sama. Saya pun demikian. Saking asyiknya memotret, tidak sadar ditinggalkan rombongan.

Garut 2016_Day1_04

Garut 2016_Day1_0906.15, Hingga mencapai titik tertinggi (1400 mdpl), kami belum juga menemukan rumah makan. Akhirnya, Andjoe dan Puji pun menyerah terhadap rasa lelah dan kurang tidur. Kami akhirnya menepi di depan rumah, di dekat pertamini (pom bensin tak resmi). Sementara mereka berdua tidur, yang lainnya mengisi waktu dengan kesibukan. Anto dan Koh Biji asyik berbicara sembari memesan kopi di warung kecil. Begitu juga Tirta, satu-satunya wanita dalam rombongan ini. Saya sendiri sibuk mencharge ulang ponsel dengan powerbank dan menyibukkan pikiran, membaca data gps demi menghindari kantuk. Namun apa daya, tak sampai 10 menit, mata sudah berat rasanya. Sempat mencoba tidur di kursi, di depan warung, namun suara lalu lalang kendaraan membuat saya tak bisa tidur nyenyak.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Saya menelpon Windu dan meminta dia mencari restoran kecil atau sejenisnya agar kami bisa beristirahat. Tak sampai 5 menit, Windu menelepon kembali dan mengatakan sudah menemukan rumah maka yang menurutnya cocok untuk beristirahat sekaligus mengisi perut. Saya pun membangunkan Andjoe dan memberitahukan kepada yang lain untuk segera menyusul Windu ke daerah bernama Cisewu.

Garut 2016_Day1_05

Garut 2016_Day1_06Tak lama kemudian, di samping SDN 01 Cisewu, kami menemukan Windu tengah asyik beristirahat di rumah makan sederhana bernama Saung Mamamiya. Beneran ini namanya, gak ngarang loh. Dan kami beruntung, saung ini bergaya lesehan, enak untuk rebahan. Tanpa komando, semuanya langsung duduk, tepar dan memesan makanan sejadinya. Seusai menyantap bakwan goreng, nasi goreng, kerupuk dan teh panas tawar, sebagian besar dari kami pun terlelap. Tidur benar-benar anugerah Tuhan yang tak terlukiskan.

Garut 2016_Day1_12

“Dat, bangun woi. Lanjut nyok ah,” Ujar Anto membangunkan saya. Tak lupa Anto memesankan (lagi) secangkir kopi hitam untuk membangunkan “jiwa” ini. Badan yang sudah kangen selonjoran ini memang awalnya rada susah diajak semangat. Maklum, aktivitas kami melawan jam biologis tubuh; melewati tidur malam. Tapi apa daya, perjalanan harus dilanjutkan.

Dari Cisewu kami kembali menemui kontur jalan tak jauh berbeda; tanjakan curam, turunan, tikungan tajam dan sebagainya. Kali ini bahkan harus berjibaku dengan beberapa rombongan mobil dan motor. Jadilah saling overtake di tanjakan dan turunan. Maklum, sebagai pengguna motor bebek, untuk menempuh tanjakan curam, harus ambil ancang-ancang yang jauh. J

Garut 2016_Day1_10Saat menikmati sedang menikmati jalan yang menurun curam, tiba-tiba kami tiba di sebuah perempatan. Di sebelah kiri jalan terdapat minimarket, dan saat itu saya sadar, akhirnya kami tiba pesisir Bandung Selatan.

“Kalo kita ke kanan, itu bisa tembus ke Ujung Genteng. Lurus ke arah pantai Ranca Buaya. Sedangkan ke kiri, itu tujuan kita. Ke puncak Guha, lalu Pantai Santolo dan Pamengpeuk,“ tambah Andjoe, rider kalem yang sudah pernah ke titik 0 KM, Sabang, Aceh.

Nah karena titik pengisian bahan bakar terdekat ada di Pamengpeuk, sejauh 20an kilometer, maka saya memutuskan untuk mengisi bensin di Pertamini. Maklum, posisi bahan bakar sudah tipis. Asumsinya sih cuma bayar Rp. 8.500 /liter untuk Premium. Ndilalah, ternyata begitu mau bayar, kena getok Rp. 10.000,-. Bah, sudah mahal, premium pulak, dalam hati saya ngedumel. Tetapi, yah mau gimana lagi, nasi sudah menjadi bubur🙂. Dengan tambahan bahan bakar itu, saya pede menyusul teman-teman melanjutkan perjalanan ke Puncak Guha.

 PUNCAK GUHA
Awalnya rada bingung juga memasuki area ini. Kita hanya membayar karcis lima ribu rupiah, dan dipersilahkan untuk berjuang melewati jalan setapak pasir menuju pinggir tebing Puncak Guha.

Garut 2016_Day1_13“Wah sudah dipasang pagar. Dulunya sih belum. Payah dah”, ujar Puji begitu kami parkir di area Puncak Guha. Sementara saya malah berpikir lain. Kata “Guha” setahu saya berarti Gua. Jadi, dimana Guanya? Pikir saya dalam hati. Lalu obyek wisatanya apaan yah? Begini doang?, pikir saya dalam hati. Namun, kebingungan saya hilang sementara ketika teman-teman mengajak berfoto bersama. Sementara itu, Anto justru asyik selonjoran di dipan, dibuai hembusan angin laut selatan.

Garut 2016_Day1_14Melihat kondisi geografisnya, saya jadi paham kenapa dipasang pagar di area Puncak Guha. Area ini adalah sebuah tebing tinggi yang menjorok ke arah laut selatan. Jika tidak dipagari, bisa menimbulkan potensi kecelakaan. Nah, ketika sedang berjalan ke dataran yang lebih rendah, saya mendapati ada satu lubang besar yang dipagari. “Wah ini kali gua-nya”, ujar saya yang langsung diamini oleh Koh Biji. Yup, begitu melihat ke bawah, dan mendapati ada ratusan kelelawar ningkring di dinding gua tersebut, saya jadi yakin inilah Guha (gua) yang dimaksud. Di tempat yang tinggi ini (Puncak) terdapat Guha (Gua) di bawahnya. Melihat adanya air laut di dasar gua, berarti memang ada gua dari arah laut ke bawah perut tebing. Okay, sekarang masuk akal kenapa diberi nama “Puncak Guha”.

Garut 2016_Day1_15Jadi, obyek di Puncak Guha adalah pemandangan pesisir dan juga laut selatan dari tebing yang tinggi serta gua yang dihuni oleh ratusan kelelawar. Selebihnya? Tidak ada. Thats about it.

Garut 2016_Day1_16

Tak lama berada di puncak Guha, kami melanjutkan perjalanan ke arah Pantai Santolo. Nah, mencicipi jalur ini sungguh nikmat tiada tara. Sejauh mata memandang, pemandangan indah tiada henti tersaji. Di sebelah kiri ada perbukitan hijau, di sebelah kanan ada pesisir laut selatan milik Sang Ratu Kidul dan di depan, jalan aspal mulus tanpa persimpangan atau lampu merah.🙂 gassss!

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

PANTAI SANTOLO
Kami tiba di dekat area wisata Pantai Santolo setelah puas menikmati jalan mulus sepanjang 23 kilometer. Ternyata, kita harus masuk lagi lebih dalam, untuk mencapai kawasan Pantai Santolo. Nah, kondisi jalannya justru tidak sebaik jalan utama tadi. Nah, saat sedang berkendara santai, tiba-tiba saja saya melihat tulisan “LAPAN” di sebuah dinding bangunan yang tampaknya tertutup untuk umum. Ketika saya mendekat, terdapat tulisan “BALAI PRODUKSI DAN PENGUJIAN ROKET”. Waini, jadilah saya, Puji dan Windu mejeng di depan lembaga penelitian antariksa milik pemerintah tersebut.

“Ini pantainya. Kita masuk agak ke dalam yah,” Ujar Andjoe kepada rombongan begitu kami tiba di kawasan Pantai Santolo. Jujur, saya awalnya rada bingung, kok pantainya tertutup toko-toko di pinggir jalan. Sama sekali tidak ada visual langsung ke pantainya. Tak lama kemudian, melewati parkir mobil dan motor yang cenderung tak terorganisir dan posisi toko cinderamata serta wisma yang juga tak jelas tata letaknya, kami dipandu oleh seorang tukang parkir untuk parkir persis di depan “pelabuan kecil”.

“Nih beneran parkirnya kayak gini?” tanya saya ke Andjoe.
“Emang kayak begini dat kalo di sini,” Jawab pria pengguna Scorpio itu nyengir kuda.

Setelah beres memarkir kendaraan, kami baru paham bahwa untuk bisa menikmati pantai Santolo yang sesungguhnya, harus menyeberang menggunakan perahu yang sudah disiapkan. Dengan Rp. 2.000,- /orang kami diantar oleh pemilik perahu, dan dijemput kembali jika sudah selesai. “Pulau” itu sendiri sebenarnya hanya berjarak 10-20 meter dari tempat parkir kami. “Katanya sih gak terlalu dalam, cuma 2-3 meter. Kenapa gak dibikin jembatan aja yak?” tanya Koh Biji sembari mengumbar senyum jahilnya.

Garut 2016_Day1_18

“Yah buat membantu nelayan sini kali ji. Lumayan kan, mereka dapat pemasukan,” ujar saya sembari melihat ke arah muara. Namun belum sempat saya menoleh kembali ke arah laut, kami sudah tiba di bibir pantai pulau tersebut.

Dengan biaya masuk Rp. 4.000,- /orang kami mulai menapaki pulau Santolo. Namun lagi-lagi harus sedikit kecewa karena pemandangan ke arah pantai tertutup oleh puluhan pondokan di pinggir pantai, yang sepertinya milik tiap-tiap warung di depannya. Otomatis jika ingin nongkrong di pondokan tersebut, yah harus jajan bukan?

Garut 2016_Day1_19Kekecewaan kami terobati ketika mendapati satu area yang unik sebagai latar belakang foto. Sebuah bendungan dengan tinggi 10 meter berdiri membatasi antara muara sungai dan laut selatan. Jadilah kami sibuk selfie.

“Ke sana yuk dat,” Ajak Anto. Namun saya enggan turun ke arah pantai. Pasalnya, bisa dilihat jelas bahwa bukan pasir yang bakal menyambut, tetapi karang. Jika dilihat sekilas, tampak seperti karang yang landai, tetapi jika didekati, dijamin harus pakai alas kaki atau siap-siap menahan sakit. J Bagi saya, Santolo ternyata tidak seindah yang dikatakan oleh banyak orang, atau mungkin saya saja yang apes, terlambat datang ke sini.

Garut 2016_Day1_20Tak sampai 15 menit, kami menyudahi aktivitas, kembali ke warung dimana Andjoe menunggu, lalu memutuskan untuk menuju kota Garut. Kembali kami harus menahan lelah, melewati jalur penuh tanjakan, turunan dan tikungan tajam. Kali ini kami “terpaksa” menikmati jalur yang asyik tersebut.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Dikatakan demikian karena sleep deprivation sudah mulai melanda kami. Anto dan Windu terlihat melambat dan selalu tertinggal rombongan. Puji selalu mengubah posisinya, kadang ada di tengah, kadang ada di belakang rombongan. Sementara saya dan Koh Biji sudah males berada di belakang, ngintilin Anto dan Windu yang makin lamban.

OLYMPUS DIGITAL CAMERASetelah istirahat di Cikajang, kami melanjutkan perjalanan menuju Garut via Boyongbong. Akhirnya, dua jam setelah meninggalkan Pamengpeuk, kami tiba di penginapan Wisma PKPN kota Garut. Sebuah penginapan yang cocok untuk keluarga dan rombongan, karena bersih, terawat dan jauh dari kesan mesum. Harganya pun cukup terjangkau. Kamar yang kami sewa, terdiri dari 3 kamar tidur, ruang tamu yang luas dan juga teras kecil, hanya berharga 330ribu per malam. Ditambah dengan extra bed 4 buah, tigapuluh ribu per malam.

Sejauh ini, kami sudah menempuh jarak 394 kilometer, dan menghabiskan waktu sebanyak 18,5 jam berkendara. Badan pegal nan lelah, sudah menagih untuk diguyur air bersih dan untuk kemudian tidur. Rencana awal untuk berendam di wisata air panas Cipanas terpaksa ditunda. Hampir semuanya sudah selonjoran,  tertidur bahkan ada yang sudah asyik santai, menyeduh kopi sambil sarungan. Sementara itu, melalui earphone, saya harus rela dituntun oleh Slow Dancing in a burning room-nya John Mayer memasuki alam mimpi.

Bersambung…

4 responses to “Kembali Mencumbui Alam Priangan

  1. mantap gan!!! kapan kapan pengen geber motor ke sana ah. Cuman mengurangi motivasi ih pantainya tidak selandai harapan hahaha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s