Kembali Mencumbui Alam Priangan (Bag. 2)

Bagian terakhir dari dua tulisan.

Minggu 7/2 – GONG XI FA CAI!
07.30
Semua anggota rombongan sudah bangun, dan bersiap untuk menikmati obyek wisata di seputaran Garut. Rencananya, hari ini kita akan ke Kampung Naga, Kawah Kamojang dan wisata air panas di Cipanas. Garut 2016_Day2_01

08.30 Kami berangkat menuju Kampung Naga. Dari aplikasi GoogleMaps, diperkirakan jarak tempuh 24 kilometer, dengan estimasi waktu tempuh 30-40 menit. Kampung Naga dipilih sebagai tempat pertama, karena dipandang lebih nikmat dikunjungi pada pagi hari, dimana suasana di tempat tersebut belum terlalu ramai.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Menuju kampung Naga, kami melalui jalan raya Garut-Tasikmalaya. Dari namanya sudah jelas, jalur ini adalah penghubung dua kota tersebut. Kehadiran bus antar kota berukuran sedang hingga besar sudah harus diantisipasi. Tidak banyak tanjakan/turunan yang ditemui, namun banyak tikungan “S” yang membuat kami harus ekstra waspada terhadap “efek ciluk ba”. 40 menit kemudian, kami sudah tiba di pintu terbang kampung Naga, di sebelah kiri jalan raya.

Saat di area parkir motor, rombongan kami dihampiri oleh seorang bapak berpakaian (mungkin) adat sunda. Asumsi saya, bapak ini adalah pemandu tur di kampung Naga. Namun, ternyata bapak itu adalah tukang parkir. Seusai menitipkan helm dan jaket ke warung terdekat, saya celingak-celinguk mencari semacam loket atau pusat informasi. Entah saya yang missed atau memang tempat yang dimaksud belum tersedia. Yang saya lihat hanyalah warung makan/minum dan toko suvenir.

Dari area parkir motor/mobil, untuk mengakses Kampung Naga, kita hanya bisa jalan kaki, tidak ada alternatif. Saat berangkat, ada sekitar 200an anak tangga yang harus dituruni. Begitu mulai menuruni anak tangga yang dilindungi oleh pepohonan nan rimbun, saya mulai tersenyum membayangkan lelahnya mendaki anak tangga ini saat hendak kembali nanti. Dan tidak butuh waktu lama untuk berpapasan dengan keluarga, orang tua, sepasang muda-mudi yang tampak kelelahan karena menapaki anak tangga.🙂

Begitu tiba di salah satu spot yang memerlihatkan kita alam indah di sekitar kampung Naga, saya pun berhenti sejenak. Mulailah saya mengandalkan koneksi internet di ponsel, untuk mencari informasi tentang Kampung Naga. Faktanya cukup menarik.

 Garut 2016_Day2_03

Kampung Naga dikatakan sebagai kampung yang masih menganut kebudayaan leluhur mereka. Artinya mereka tidak mengikuti gaya hidup modern seperti kebanyakan orang saat ini. Penduduk Kampung Naga hidup dengan bercocok tanam, beternak hingga memelihara ikan. Untuk penerangan, mereka juga masih menggunakan lampu petromak dan sejenisnya. Dan untuk mengairi sawah, mereka mengandalkan aliran air dari sungai di atas bukit.

Perihal asal usul Kampung Naga, sayangnya tidak ada sumber yang tersedia. Menurut Wikipedia, ketiadaan sumber sejarah ini karena pusat dokumentasi Kampung Naga dibakar di era pemberontakan DI/TII. Waktu itu, penduduk Kampung Naga tidak ingin bergabung ke DI/TII, oleh sebab itulah tentara DI/TII membakar semua catatan sejarah yang memuat asal muasal kampung tersebut.

Tak lama kemudian, kami tiba di jalan setapak. Di sebelah kanan jalan terdapat sungai yang cukup lebar, dan di sisi kiri terdapat hamparan sawah hijau dengan latar belakang bukit menjulang tinggi serta pepohonan lebat. Udara memang terasa segar sekali, tiada kebisingan dan angin berhembus sejuk. Namun, begitu mendekati pintu masuk Kampung Naga, saya malah dikagetkan oleh pertanyaan, “Dat, kok ada yang jual es krim dan kue, kue apaan itu?” ujar Andjoe. “Kue Pancong mas,” ujar seorang ibu yang duduk di samping penjual makanan tersebut. Saya hanya tersenyum saja.

 Garut 2016_Day2_04

Kami pun tiba di jalan masuk Kampung Naga. Dan tetap saja, saya masih bingung, ada apa gerangan di kampung ini, yang bisa kami nikmati? Pasalnya hingga detik ini, tiada satupun penampakan pemandu lokal. Bah!

Memasuki kampung, ada pemandangan unik yang membuat saya berdecak kagum. Rumah-rumah yang berdiri begitu sederhana. Dilihat dari kusen pintu dan jendela, serta cat yang mulai pudar, bisa dibilang rumah para penduduk kampung konsepnya sederhana, tidak ribet. Semuanya terbuat dari kayu dan tidak banyak pernak-pernik di luar rumah. Tak lama kemudian, kami tiba di sebuah lapangan kecil. Saya berasumsi, ini semacam alun-alun atau pusat desa?

Garut 2016_Day2_05

“Kita ngapain lagi nih ji?” tanya saya kepada koh biji. Pria Minang itu pun sama bingungnya dengan saya. Bukan jawaban yang didapat, Koh Biji malah bertanya balik. “Ini begini doang? Gak ada pemandu gituh? Atau ah, jadi bingung.” Puji lalu berinisiatif masuk lebih dalam ke wilayah kampung. Sementara itu, saya mengamati keadaan sekitar yang rada akward. Beberapa penduduk kampung duduk di teras rumah mereka, melihat kami para pendatang. Dari tatapan mata dan wajahnya, mereka menunjukkan keramahan. Di saat yang bersamaan, ada puluhan remaja putra dan putri, yang asyik berfoto dengan pakaian khas sunda (mungkin?). “Mereka kayaknya lagi bikin buku tahunan tuh dat,” ujar Toto. Saya hanya menggangguk saja. Tak lama kemudian Puji sudah kembali. “Di dalam sih gak ada apa-apa dat. Cuma memang kayaknya ini bukan desa wisata, tapi gue akuin dari yang gue lihat, mereka masih hidup sederhana,” ujar Puji memberi laporan ala telik sandhi. Saya berpikir, sepertinya kami tidak well prepared memasuki kampung ini. Mungkin harusnya mencari tahu dahulu dimana bisa menemukan pemandu lokal, sehingga kunjungan ke kampung ini bisa lebih bermanfaat.

Akhirnya disepakati untuk keluar dari Kampung Naga. Bukan karena kampung tersebut tidak menarik. Siapa sih yang tidak ingin berlama-lama di tempat teduh nan rimbun, dengan suara derik sungai menjadi musik alami di telinga? Masalahnya, kami tidak mempunyai pemandu yang bisa memberikan informasi lebih baik tentang kampung ini. Terutama perihal Do’s & Don’t. Dan yang paling terpenting, kami sepakat untuk tidak sembarangan bertamu ke kampung yang sudah dihuni selama puluhan tahun, dan merupakan rumah bagi mereka, para penduduk Kampung Naga.

Garut 2016_Day2_06Seperti sudah bisa diduga, bakal ada “korban” dari ratusan anak tangga yang harus didaki untuk bisa kembali ke area parkir. Dan korban pertama adalah Windu, lalu Toto. Awalnya saya bersedia menunggu Windu, namun karena pria gembul itu terlalu lama beristirahat, maka saya pun memutuskan untuk berjalan sendirian. Well, meniti anak tangga ini, seperti membangkitkan memori ketika hobi naik gunung puluhan tahun silam. Bedanya, kali ini tidak well prepared. Jadilah, napas sedikit ngos-ngosan hingga tiba kembali di atas.

“Loh mas, temannya si gendut mana?” kelakar kumpulan ibu-ibu yang kami temui saat memasuki kampung Naga beberapa saat lalu.

“Wah dia pingsan bu. Jadi, yah saya tinggal saja!” jawab saya bercanda. Dan sontak kelompok ibu-ibu tersebut tertawa renyah. Teman saya yang dimaksud mereka, tentu saja, siapa lagi kalo bukan Windu?🙂

15 menit kemudian, semua sudah tiba di warung makan tempat saya, Anto, Tirta dan Koh Biji menunggu. Setelah istirahat 10 menit, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Kawah Kamojang.

KAWAH GEOTHERMAL KAMOJANG
11.05
“Windu mana nih?” tanya Anto saat kami sudah tiba kembali di kota Garut. Saya pun tidak tahu dimana posisi karyawan perusahaan transportasi tersebut. Semua anggota rombongan sudah ada, hanya Windu yang belum terlihat batang hidungnya. Sempat didiskusikan apakah harus mengirim Puji untuk mencari tahu apa yang terjadi. Namun kami urungkan niat tersebut mengingat padatnya lalu lintas. 20 menit setelah menanti, terlihat Windu di belakang rombongan supporter Persib yang tengah konvoi. Ketika berhenti, saya memerhatikan kaca spion kanannya yang pecah.

“Jatuh gue pas mau berhenti di belakang sana,” ujarnya tanpa perlu ditanya.

“Lo gak ada luka?” tanya saya.

“Gak. Lanjut deh. Nanti aja gue ceritain,” jawabnya.

Perjalanan menuju Kawah Kamojang pun dilanjutkan. Walaupun sempat berputar sejenak untuk bisa keluar dari kota Garut, namun akhirnya kami bisa menemui jalan Samarang, untuk bisa tiba lebih cepat ke Kawah Kamojang.

Dari Garut-Samarang hingga perbukitan menjelang Kawah Kamojang, tidak ada hambatan berarti. Jalan yang kami lalui sepertinya jalan kelas II, dimana lebarnya hanya pas untuk dua mobil niaga berpapasan. Setelah belok ke arah Kampung Sampireun, saya melihat awan hitam sudah menggelantung jauh di depan. Dalam ingatan saya, kawah Kamojang ini terletak di Gunung Guntur. Melihat ada dataran tinggi di depan, saya cukup yakin jaraknya tidak jauh lagi. Kembali, tanjakan curam membuat rombongan kami bercerai berai. Yang mampu ngacir bakal di depan. Sementara, saya dan andjoe serta Koh biji harus puas “menyatu” alias menggunakan gigi satu dengan santainya. Ketika tengah berkendara di jalan yang menanjak, hujan mulai turun. Kami pun berhenti.

13.05 “Kok lo gak pake jas hujan?” tanya saya ke Koh Biji yang menepi di depan saya. “Kata si Anjoe dah deket kok. Tanggung ah, baru gerimis doang”, jawab Koh Biji yakin. Jadilah kami bertiga berkendara lebih dahulu ketimbang teman-teman yang masih sibuk mengenakan jas hujan. Belakangan kami bakal menyesal dengan keputusan tersebut.

Tak lama kemudian, saya melihat papan penunjuk jalan ke Kawah Kamojang. Saya pun semakin bersemangat. Apalagi begitu tiba di dekat pintu masuk Gedung pengelola kawasan Potensi Geotheral milik Pertamina. Namun di saat yang bersamaan, hujan turun dengan deras. Saat menyusuri jalan raya yang di sampingnya terdapat pipa-pipa berukuran raksasa, saya mulai menyesal tidak menggunakan jas hujan. Akhirnya, karena mulai basah kuyup, kami bertiga berhenti.

“Ah biji, mana? Katanya udah deket.” Ujar Koh Biji bersungut-sungut saat kami bertiga berteduh di bawah pipa Geothermal yang melintas di atas jalan raya. Andjoe hanya tersenyum saja. Saya pun hanya bisa tertawa. Sebenarnya pakaian sudah terlanjur basah, tetapi jas hujan tetap saya kenakan.

Di bawah guyuran hujan deras, kami bertiga melanjutkan perjalanan dengan hati-hati. Visibility cukup terbatas karena derasnya air hujan yang turun. Rasa dingin mulai merambah tulang, dan angin kawah Kamojang seakan menyambut kedatangan kami. Saat itulah saya melihat ada danau kecil di sisi kiri jalan, mengeluarkan asap yang membumbung tinggi. Well, saya pikir ini dia, Kawah Kamojang. Dan benar saja, tak lama kemudian, terlihat gerbang masuk ke area wisata Kawah Kamojang.

Karena hujan deras tiada henti, kami berteduh di sebuah warung makan. Banyak juga pengunjung yang berteduh di warung-warung. Namun, tak sedikit yang berjalan ke arah kawah, menggunakan payung atau jas hujan. “Kita jalan aja yuk, pake jas hujan?” tanya Puji. Tapi saya katakan, bahwa kita bisa menunggu 1 jam lagi hingga hujan reda.

 Garut 2016_Day2_07

“Bu, indomie dong. Pakai telor yah,” ujar Toto memesan makanan kepada si empunya warung. Teori suasana dingin cenderung membuat orang lapar dan haus baru saja terbukti. Dan tanpa perlu komando, satu per satu mulai melakukan hal yang sama. Tak lupa beberapa bungkus kerupuk dan gelas-gelas berisi tah panas tawar mulai memenuhi meja. Jadilah, dibawah penerangan lampu dari USB Power Bank menjadi satu-satunya penerangan yang kami miliki. Aneh tapi nyata, tiada satu pun warung di area tersebut dialiri listrik. Saya sempat mengecek suhu udara melalui aplikasi di ponsel, dan mendapatkan angka 20° C. “Wuih, mulut gue berasap coy!” ujar Toto berkelakar, yang disambut dengan tawa renyah dari teman-teman.

Fenomena “asap” yang muncul saat kita bernapas di lokasi dengan udara yang dingin adalah normal. Sederhananya, terjadi kondensasi antara kandungan air dalam hembusan napas kita dengan suhu dingin yang ada di luar. Maka, keluarlah “asap” sebagai produk kondensasi tersebut.

Saat browsing (yah dapat sinyal seluler, tetapi hanya satu operator saja), saya membaca sejarah tentang kawah Kamojang. Ternyata, yang menemukan potensi geothermal (panas bumi) di sini adalah orang Belanda. Mereka mulai mengeksplorasi potensi panas bumi di kawah kamojang sejak 1926, jauh sebelum kemerdekaan NKRI. Setelah itu, pada tahun 1983 Presiden Soeharto meresmikan area ini menjadi pengelolaan panas bumi dengan teknologi modern. Saat ini, pengelolaannya dipegang oleh PT. Indonesia Power, anak perusahaan BUMN PT. PLN. Sementara, konsesi keseluruhan lahan dipegang oleh PT. Pertamina Geothermal Energy, anak perusahaan PT. Pertamina, yang juga BUMN. Saat ini, Indonesia merupakan negara produsen Geothermal ketiga terbesar di dunia setelah Filipina dan Amerika Serikat. Kapasitas listrik yang bisa dihasilkan dari empat lapangan uap yang ada di Kamojang adalah 140 MW (Mega Watt). Dan…

 Garut 2016_Day2_09

“Dah reda nih, yuk ah kita kemon,” ujar Puji membuyarkan konsentrasi saya yang tengah membaca sejarah kawah Kamojang. Begitu saya lihat ke luar, hujan memang sudah reda, menyisakan kabut tipis saja. Disambut udara dingin dan semilir angin, kami mulai berjalan menuju kawah-kawah yang jadi obyek wisata.

 Garut 2016_Day2_08

Kawah pertama yang kami datangi, disebut kawah Kereta Api. Jika disebut kawah, sebenarnya agak mengernyitkan dahi saya, karena luasnya hanya sekitar 5×5 meter dengan lubang yang mengeluarkan asap terus menerus. Padahal di benak saya, kawah itu luas sekali. Anyway, asap yang keluar tersebut merupakan produk dari panas bumi, disertai suara yang bising sekali. Saya sempat menguji besaran desibel suara tersebut, kisarannya 90-100an db. Untuk berbicara dengan level suara normal, dijamin tidak akan terdengar. Harus sediki teriak untuk bisa berkomunikasi. Asumsi saya, kawah ini dinamakan demikian karena bunyinya yang mungkin, terkadang mirip peluit kereta uap/api jaman doeloe.

 Garut 2016_Day2_10

Kawah yang kedua adalah kawah Hujan. Entah kenapa dinamakan demikian. Tapi dari papan yang ada di pinggir kawah, mungkin bisa dibilang karena di kawah ini kerap terjadi hujan(?). Berbeda dengan kawah Kereta Api, manifestasi panas bumi di kawah ini berbentuk air panas yang suhunya bisa mencapai 95-98° Celcius. Dan ketika kami tiba di sana, sudah banyak pengunjung yang asyik berfoto. Akhirnya diputuskan untuk tidak turun ke kawah karena terlalu crowded. Akhirnya kami hanya menikmati kawah tersebut di bibirnya saja. Di area ini kita bisa juga menyaksikan adanya uap panas berbentuk asap putih keluar dari sela-sela batu dan tanah.

“Tuuuttt!” sebuah suara persis seperti peluit kereta uap, terdengar di kejauhan. Saya dan teman-teman pun bergegas kembali ke arah kawah kereta api itu. ndilalah, ternyata ada seorang kakek, yang menggunakan bambu panjang dan besar, lalu mengarahkan bambu tersebut ke lubang tempat uap panas menyembur. Dan terdengarlah bunyi seperti peluit kereta api. “Walah, gue kirain bunyinya alami. Ternyata, si kakek yang maenan gas alam,” ujar Koh Biji disambut tawa renyah oleh yang lain.

Usai menikmati keajaiban alam ini, kami pun bergegas kembali ke kota Garut. Saat meninggalkan pintu gerbang kawasan kawah, tiba-tiba saja rombongan berhenti. Aksi mengambil foto pun dimulai. Semua motor kami, kecuali Windu yang sudah terlebih dahulu pergi, diparkir di depan danau yang mengeluarkan asap putih. “Yak, kita sudah sah ke sini!” ujar Puji seusai mengambil gambar, sembari tersenyum. Perjalanan pun dilanjutkan.

Garut 2016_Day2_11

Saat keluar dari area Geothermal, Saya, Koh biji dan Windu kembali berhenti di area Pipa gas bumi Kamojang. Sebenarnya, bukan untuk memotret gambar, melainkan untuk mengenakan jas hujan. Pasalnya, hujan deras kembali turun. Namun, begitu melihat pipa-pipa berukuran raksasa yang berada di atas kami, saya pun mulai mengarahkan Windu dan Koh Biji untuk diambil gambarnya. Klik, klik, beberapa gambar pun terekam di memori kamera.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

16.45 Rombongan melanjutkan perjalanan ke arah Garut. Kami bertiga yang berada di urutan belakang, berkendara agak santai. Pasalnya, kabut yang lumayan tebal menyebabkan low visibility, hingga kami harus membatasi manuver dan kecepatan. Plus, hujan yang terkadang turun sesekali. Bisa dikatakan hampir semua anggota rombongan basah kuyup saat kami tiba kembali di kota Garut menjelang Maghrib.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

19.00 Rencana ke Cipanas, untuk berendam di kolam air panas terpaksa digagalkan. Hujan mengguyur kota Garut. Apalagi sebagian besar dari kami masih malas beranjak dari kasur ataupun kursi, sejak tiba basah kuyup dari Kawah Kamojang. Saya sempat mengecek kondisi lalulintas melalui Google Maps, dan kaget saat melihat warna merah (lalulintas padat/macet) di seputaran Cipanas. Saya pun memerlihatkan hasil temuan itu kepada Puji dan Koh Biji. Kedua teman saya ini pun akhirnya mengamini untuk tidak pergi ke Cipanas. Malam ini, kami beristirahat total, sembari menyiapkan tubuh untuk bangun pagi hari.

SENIN (8/2)
09.00
lepas dari Garut, melewati Cipanas, kami mendapati kepadatan para pengunjung yang tak terkira hingga menyebabkan kemacetan lalu lintas. Untung saja kami tidak jadi ke sini tadi malam, pikir saya. Selanjutnya rombongan meneruskan perjalanan dengan rute Cijapati-Cicalengka-Cileunyi-Soekarno Hatta-Cimahi-Padalarang-Purwakarta.

16.00 Di kota Purwakarta kami istirahat sejenak mengisi perut, lalu lanjut menuju Bekasi sebagai breaking point (rombongan bubar). Lepas dari Purwakarta hingga beristirahat di Cikarang, kami diguyur hujan tiada henti. Bahkan ketika meneruskan perjalanan Cibitung-Tambun dan tiba di Bekasi, hujan masih saja mengguyur. Beberapa kali kami harus melalui banjir yang lumayan tinggi.

20.15 Saya adalah orang pertama yang tiba di rumah di Bekasi, berpisah dengan rombongan yang masih berjibaku untuk tiba di rumah masing-masing hingga dua jam ke depan. Saya pun menyempatkan diri untuk mencuci pakaian, membersihkan motor dan kemudian mandi air hangat.🙂

Total perjalanan yang kami lalui antara 600-700 kilometer, total pergerakan saat pergi nyaris 20 jam, sementara saat pulang 12-14 jam. Lelah? Pastinya. Mata ini hendak menutup, tetapi pikiran masih terkesima dengan pengalaman 3 hari terakhir. Dalam kelelahan yang amat sangat, saya selonjoran di sofa, sembari sesekali menyeruput Teh Upet Cirebon yang masih hangat, serta mendengarkan lagu-lagu Original Sound Track dari film The Live of Walter Mitty, dari Ipod kesayangan.

Saya pun melihat kembali foto-foto perjalanan di ponsel. Ah, alam priangan, memang selalu memohon untuk dicumbui. Dan fenomena travel blues mulai melanda. Belum genap 24 jam berlalu, saya sudah merindukan momen-momen yang baru saja dilalui.

23.00, sang kantuk mulai menghampiri ketika saya mendapat kabar bahwa Tirta, lady biker yang ikut dengan kami, sudah tiba di rumahnya di Tangerang. Antara sadar dan tidak, ingin sekali mengulangi perjalanan yang baru saja usai. Namun apa daya, realita telah mengambil-alih. Perlahan-lahan, saya mulai rileks dan terbawa ke alam mimpi diiringi lagu Space Oddity yang dinyanyikan oleh David Bowie dan Kristen Wiig…

This is Major Tom to Ground Control,

I’m stepping down through the door

And I’m floating in the most peculiar way

And the stars look very different today

For here am I sitting in my tin can

Far above the world

Planet earth is blue

And there’s nothing I can do…

(hnr)

2 responses to “Kembali Mencumbui Alam Priangan (Bag. 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s